HILANGNYA BUDAYA DAN BAHASA JAWA SEBAGAI TANDA HILANGNYA JATI DIRI BANGSA

ABSTRAK

Bila suatu bangsa diibaratkan pohon dan budaya adalah akarnya. Sedangkan kalau pohon itu dicabut beserta akarnya, setelah itu ditanam kembali dengan keadaan tanpa akar atau diganti dengan akar lain, pasti pohon tersebut tidak akan tumbuh dengan sempurna  atau bahkan akan layu dan mati.
Ki Hadjar Dewantara :
“Dan pertjajalah, saudaraku semua, selama kita merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban kita,  djanganlah kita mengharap akan dapat mendjauhkan anak-anak kita dari keinginannya  hidup seperti Belanda-polan. Sebaliknya kalau anak-anak kita dapat kita didik sebagai anak-anak bangsa kita, agar djiwanya bersifat nasional dan mereka itu dapat kembali dan memegang kultur bangsa awak, jang sedjak  abad jang lalu sudah tidak hidup lagi dalam dunia kita, karena hidup kita seolah-olah hidup dalam penghambaan, pertjajalah bahwa mereka itu akan merasa puas  sebagai anak Indonesia”. Dan kalau kita sudah membangkitkan pula hidup kebangsaan kita, tentulah alat-alat penghidupan asing yang berfaedah  sadjalah jang kita ambil. Karena kita tidak lagi mabuk cinta, dan peribahasa “Cinta itu buta” tidak lagi mengenai diri kita. Akhirnya kita lalu dapat memilih dengan fikiran dan rasa yang jernih.
Dengan hilangnya budaya dan bahasa jawa merupakan hilangnya jati diri yang membentuk budi pekerti suatu bangsa serta hilangnya ilmu pengetahuan dari suatu bangsa yang seharusnya bisa bermanfaat untuk kemakmuran dan kejayaan bangsa tersebut. Karena untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak harus dengan kekuatan militer yang lengkap serta canggih persenjataanya, tetapi dengan dihancurkannya budaya dari suatu bangsa akan hancur pula bangsa tersebut.



HILANGNYA BUDAYA DAN BAHASA JAWA
SEBAGAI TANDA HILANGNYA JATI DIRI BANGSA

PENDAHULUAN

I.   Apa Itu Jawa (What Is Java)

selama ini pemahaman tentang Jawa dalam masyarakat masih belum jelas dan masih simpang siur. Ada sebagian masyarakat mengartikan Jawa adalah sekedar sebuah teritorial (daerah/wilayah) dan sukuisme. Ada sebagian masyarakat mengartikan Jawa sebuah makna filosofi atau karakter manusia yang baik, dalam bahasa Jawa disebut “beneh”. Karena hal tersebut, mendorong LP3BJ & ORMAS "Raket Prasaja" Jawa Timur mengadakan Seminar Nasional dengan tema “What Is Java”, untuk mendapatkan sebuah pemahaman tentang Jawa yang benar atau paling tidak mendekati kebenaran. Seminar tersebut diadakan di Balai Kota Malang pada tanggal 1 Agustus 2009, yang merupakan kerjasama LP3BJ & ORMAS "Raket Prasaja" Jawa Timur dengan Pemkot dan Pemkab Malang. Dalam seminar tersebut dihasilkan sebuah pemahaman tentang Jawa, terdiri dari :

1.    Jiwa Jawa (Spirit Of Java)

Dalam pengertian Jawa, huruf Jawa dipahami kalau berlandaskan sangkan paraning dumadi atau asal muasal muasal hidup dan kehidupan. Sedangkan kata hidup juga bisa bermakna jiwa. Selama ini pemahaman masyarakat umum kalau semua huruf Jawa dipangku mati (untuk mendapatkan huruf mati atau konsonan dalam sebuah kata). Dari 20 huruf Jawa ternyata setelah kita kaji, hanya huruf JA dan WA saja yang dipangku tidak mati. Berlandaskan hal tersebut, Ini berarti Jawa bermakna tidak pernah mati atau selalu hidup. Hal ini merupakan nilai filosofi yang bermakna tinggi yang bermaksud, siapapun kita, apapun suku kita, apapun keyakinan (agama) kita, berapapun tinggi pendidikan atau kekayaan kita, seberapa rendah ilmu atau kekayaan kita, kalau dipangku oleh situasi dan kondisi tersebut kita “mati” (lupa daratan) berarti kita belum Jawa. Sehingga bisa disimpulkan Jiwa Jawa berarti jiwa yang selalu hidup atau tidak pernah mati dalam situasi dan kondisi apapun, Jawa selalu kreatif dan inovatif penuh kebijaksanaan dalam nilai-nilai positif. Berarti makna kata Jawa tidak sekedar sebuah teritorial (daerah/wilayah), sukuisme atau baik (jw:beneh).

2.    Budaya Jawa (Javanese Culture)

Budaya berasal dari kata budi dan daya, berarti budaya Jawa adalah segala budi (nalar) dan daya (kemampuan) dari manusia Jawa. Dalam teori sebuah kehidupan manusia berawal dari :
a.    Sewaktu bayi menangis atau belajar bicara inilah, fase bahasa. Sedangkan yang dimaksud bahasa adalah merupakan suatu sarana komunikasi yang disepakati bersama dalam sebuah komunitas. Ketika bayi tersebut mulai besar dan mulai bisa bicara dengan bahasa yang tertata dan indah, inilah fase sastra.
b.    Ketika anak manusia tersebut melakukan berbagai kegiatan sehari-hari dan mulai mengenal lingkungan serta masyarakat disekitarnya. Kegiatan sehari hari tersebut akan menjadi sebuah adat kebiasaan dan ketika menjadi sebuah kesepakatan dalam masyarakat, kegiatan tersebut menjadi sebuah tradisi dalam masyarakat, inilah fase adat & tradisi.
c.    ketika anak manusia tersebut berkembang menjadi seorang remaja, dia akan mengenal berbagai keindahan dalam kehidupan dan cinta kasih inilah fase seni budaya (tari, musik, gambar dan luapan perasaan lainnya).
d.    ketika manusia menyadari akan kerasnya hidup dan kehidupan, mulailah dia berfikir untuk menjaga dirinya dari bahaya. Sedangkan bahaya tersebut bisa dari musuh sesama manusia, penyakit atau dari binatang maupun kondisi alam, inilah fase Jaga Raga. Dalam fase ini manusia juga mempelajari pengobatan, disini ada pengobatan altenatif (penggunaan mantra) dan pengobatan tradisional (jamu/ramuan). Dalam perkembangannya pengobatan tradisional ini menjadi pengobatan modern ala medis (kedokteran).
e.    ketika manusia semakin dewasa dan menyadari sebuah kehidupan, mulailah ada berbagai aturan atau pandangan hidup (falsafah). Dalam kesadaran tersebut munculah pemahaman sebuah hidup dan kehidupan serta adanya Sang Pecipta yang menciptakan hidup dan kehidupan (spiritual).
Sehingga bisa disimpulkan budaya Jawa (Javanese Culture) terdiri dari Bahasa & Sastra, Adat & Tradisi, Seni Budaya, Jaga Raga dan Falsafah & Spiritual.

3.    Ilmu pengetahuan dan teknologi Jawa (Javanologi)

Selama ini banyak kalangan masyarakat yang menganggap Javanologi adalah kaweruh Jawa dan diartikan sebagai aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemahaman atau anggapan ini kiranya perlu kita kaji kembali, sementara Javanologi berasal dari kata Java dan Logos yang berarti ilmu pengetahuan dan teknologi Jawa, sedangkan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan Spiritual Culture atau Budaya Spiritual.
Ilmu pengetahuan dan teknologi Jawa (Javanologi) meliputi antara lain :

    1. Ilmu sumberdaya manusia.
    2. Ilmu rancang bangun (arsitektur).
    3. Ilmu tata ruang.
    4. Ilmu managemen dan tatanegara.
    5. Iptek pertahanan dan persenjataan.
    6. Iptek pertanian dan logistik.
    7. Iptek kesehatan dan pengobatan.
    8. Iptek sinematografi (sinar, gerak & bayangan).
    9. Iptek transportasi dan komunikasi.
    10. Iptek Metalurgi atau percampuran logam.
    11. Dll.

     

    II.     BUDAYA DAN BAHASA JAWA

    Seperti yang kita jelaskan sebelumnya dalam tulisan ini tentang apa itu Jawa, bisa diibaratkan ada sebuah “rumah besar” yang disebut “budaya Jawa”, didalam rumah tersebut berisi berbagai perabotan atau peralatan yang sangat berguna serta bermanfaat dalam hidup dan kehidupan manusia. Perabotan atau peralatan tersebut antara lain Jiwa Jawa (spirit of Java), budaya Jawa (Javanese culture) dan Iptek Jawa (Javanologi). Sementara untuk memasuki rumah besar tersebut dan supaya bisa menggunakan perabotan atau peralatannya, harus melewati pintu yang disebut bahasa Jawa.
    Kalau saja segala peralatan dan perabotan dalam “Rumah Besar”  ( budaya Jawa ) yang berupa berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut telah dikenal dan sangat bermanfaat dalam segala lini kehidupan, pastilah seluruh dunia akan mempelajari bahasa Jawa.  Tetapi yang harus kita ingat, kalau ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam budaya Jawa masih terbungkus rapi, sehingga kita harus mengupas,  mengkaji dan menyelaraskan dalam kehidupan terlebih dulu. Karena dalam budaya Jawa penuh dengan “Sasmita, Pralambang dan Simbol”, dan  nampaknya hal ini menjadi ciri khas dan seperti disengaja oleh nenek moyang kita, supaya anak-cucunya menjadi manusia cerdas, kritis, rasional dan kreatif. Nenek moyang kita tidak mau menyuguhi atau meninggalkan sesuatu yang tinggal telan (instant) dan tidak rasional. Tetapi dalam budaya Jawa ada sebuah koridor yaitu kasunyatan & tinemu ing nalar. Kasunyatan adalah ilmiah – akademis dan bisa dibuktikan secara empiris, sedangkan tinemu ing nalar adalah rasional atau masuk akal. Ketika orang bicara budaya Jawa tidak ilmiah-akademis dan tidak rasional berarti bukan budaya Jawa yang sebenarnya (asli). Dalam budaya Jawa sangat tipis (bahkan bisa dibilang tidak ada) dari sesuatu yang bersifat mistik, takhayul atau irasional.  Sekarang banyak diantara kita yang asal dan langsung telan, setelah merasa pahit terus dimuntahkan dan dibuang, Bahkan ada yang lebih ironis belum mencicipi (mempelajari) sudah bilang pahit (negatif). bahkan mereka tidak sekedar tidak menyukai budaya Jawa tetapi mereka tega memusuhi budaya Jawa. Seharusnya budaya Jawa perlu dikaji, ditelaah baru dinilai dan diterapkan. Tentunya setelah dikupas, dikaji, diselaraskan dan diterapkan pada kehidupan manusia, serta menjadikan  manusia dalam kehidupannya ada ketergantungan pada ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut. Pastilah yang terjadi tidak hanya orang suku Jawa saja yang akan mempelajari  dan menggunakan bahasa Jawa, tetapi bisa seluruh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia akan mempelajari dan memakai bahasa Jawa.
    Dalam Sumpah Pemuda dan ditetapkannya bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan dan disebut bahasa Indonesia, adalah merupakan cerminan sikap bangsawan maupun toleransi dari suku Jawa khususnya tokoh-tokoh suku Jawa pada waktu itu untuk melindungi dan menghormati yang kecil (minoritas).   Seandainya waktu itu tokoh-tokoh suku Jawa ingin memaksakan kehendak, menjadikan bahasa Jawa menjadi bahasa persatuan, sebagai mayoritas tentu sangatlah memungkinkan. Inilah sikap, karakter dan Jatidiri orang yang Jawa (bukan sekedar suku Jawa). Pada masa sekarang inipun sikap Jawa kembali diuji, dalam dinamika demokrasi di negara kita. Dalam pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) setiap propinsi diberi jatah yang sama, sementara jumlah populasi penduduk di pulau Jawa dan di luar Jawa sangat jauh perbedaannya. Contoh : Propinsi Jawa Timur jumlah penduduk ± 37.734.003 jiwa, sedangkan propinsi Kalimantan Selatan jumlah penduduk ± 3.054.129 jiwa dan propinsi Gorontalo jumlah penduduk ± 960.335 jiwa (BPS thn 2007). Dalam pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di pulau Jawa nilai 1 kursi ± 400.000 suara, sedangkan di luar pulau Jawa nilai 1 kursi ± 70.000 suara. Tetapi apakah hal ini bisa juga merupakan tanda hilangnya Jawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Nusantara ini ?
    Sekarang mari kita telusuri, apakah dalam budaya Jawa ada berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta mulai kapan dan apa sebabnya terjadi putusnya “Transpormasi budaya Jawa” beserta Ilmu pengetahuan dan tehnologinya :
     

    • Ir. Sri Mulyono dalam bukunya “ Wayang, asal – usul, Filsafat dan masa depannya “. Penerbit PT. Gunung Agung. Jakarta 1978.

    Tertulis dalam buku tersebut kalau wayang asli budaya Jawa dan  sudah ada mulai  1500 tahun sebelum Masehi. Jauh sebelum orang India dan agama Hindu / Budha masuk di Nusantara ini pada abad ke- 4. Bila kita kaji, selain wayang termasuk seni budaya, didalam wayang banyak kita temukan berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi. Antara lain :

        1. Ilmu pengetahuan dan tehnologi sinematografi, antara gerak, sinar dan bayangan.
        2. Ilmu pengetahuan dan tehnologi senjata, mulai senjata penghancur massa sampai senjata peluru kendali.
        3. Ilmu pengetahuan dan tehnologi Transportasi & Komunikasi, mulai transportasi konvensional, komunikasi telepati  dan komunikasi antar waktu.
        4. Ilmu pengetahuan kesehatan dan pengobatan,  mulai ilmu kebidanan sampai ilmu anatomi. Contoh : cerita wayang tentang Rahwana ternyata setelah dikaji merupakan ilmu pengetahuan  tentang rahim dan janin.
        5. Ilmu psikologi yang komprehensif, karena dalam pewayangan menggambarkan global caracters, sementara di berbagai cerita rakyat dari bangsa lain hanya menggambarkan double caracters (black and white caracters).
        6. dll.

        Selain hal tersebut diatas, kalau kita telusuri gamelan, wayang dan tari jawa itu  adalah asli budaya Jawa, bukan budaya Hindu maupun budaya Budha. Seharusnya kita bangga karena di dunia ini Cuma ada dua simphoni lengkap, yaitu gamelan dan orkestra.
        Selain itu, dalam buku tersebut juga disisipkan  dari suatu sumber  Dra. Satyawati Suleiman. Coucise Ancient History of Indonesia hal. 1. “About 1.500.000 years ago Indonesia was already populated by one of earliest  type of man namely by PITHECANTHROPUS ERECTUS. Hal ini juga merupakan suatu bukti kalau nenek moyang kita dan peradabannya termasuk yang tertua di dunia ini.
        Kalau kita renungkan, datangnya para pedagang besar (saudagar) dari berbagai belahan dunia, terutama dari India sambil menyebarkan agama Hindhu/Budha, adalah merupakan suatu bukti kuat kalau pada masa itu (abad 4) peradaban nenek moyang kita sudah sangat tinggi dan cukup diperhitungkan. Karena sangat tidak mungkin seorang pedagang besar (saudagar) akan menempuh perjalanan panjang dan sulit, dengan mengarungi samudera hanya mendatangi daerah primitif serta tidak memiliki peradaban. Karena kalau di suatu daerah primitif dan tidak memiliki peradaban, tentu mereka akan kesulitan bertransaksi bisnis untuk mendapatkan keuntungan besar. Secara rasio pastilah seorang pedagang besar (saudagar) akan mengutamakan bagaimana mendapatkan keuntungan besar dalam segala kegiatan atau usahanya. Rasanya salah besar kalau diasumsikan pada masa itu di Nusantara (Jawa) ini belum berpenghuni dan belum ada peradaban.

        • Soeprapto Nitiharjo dalam bukunya “ FILSAFAT HA NA CA RA KA” penerbit  PT. Tiara Wacana Yogya. Tahun 2001.

        Ditulis di buku tersebut kalau huruf jawa sudah ada sejak tahun 911 SM. Penciptaan huruf jawa berdasarkan asal muasal kehidupan dan asal muasal alam semesta. Di dalam budaya Jawa hal tersebut lebih dikenal dengan istilah  “Sangkan Paraning Dumadi untuk dasar huruf Jawa dan Sangkan Dumadining Bawana untuk dasar Kalender Jawa. Dalam hal perjalanan spiritual, nampaknya bangsa kita bisa dibilang cukup stabil, tidak mengalami pasang surut yang berarti, seiring dengan muncul dan perginya seorang Utusan Tuhan. Karena pengetahuan dan pengalaman spiritual yang cukup stabil inilah yang menjadikan modal dasar, mengapa ketika ada agama/religie dari luar masuk ke Nusantara ini tidak ada pergolakan, permusuhan apalagi pengusiran terhadap pengaruh atau pelaku penyebaran agama/religie tersebut. Tetapi pada sisi lain menjadikan generasi kita tidak mampu membedakan mana budaya Jawa dan mana budaya agama pendatang, termasuk budaya bangsa pembawa (asal) agama  tersebut. Contoh, seperti saat ini beredar pendapat dari beberapa kalangan umat beragama dari salah satu agama yang ada di Indonesia ini beranggapan kalau wayang, gamelan dan tari jawa dianggapnya budaya Hindhu, sehingga ada sebagian kalangan yang membenci bahkan memusuhinya. Padahal kalau kita telusuri, gamelan, wayang dan tari jawa itu  adalah asli budaya Jawa, bukan budaya Hindhu maupun budaya Budha. Seandainya gamelan merupaka budaya Hindhu/Budha, tentu di India akan banyak ditemukannya peralatan musik yang menyerupai gamelan, baik secara pisik maupun penggunaanya.  Seharusnya kita bangga karena di dunia ini Cuma ada dua simphoni terlengkap, yaitu gamelan dan orkestra. Sementara itu gamelan sudah ada ribuan tahun silam, sedangkannya orkestra di Eropa baru muncul abad 17.
         Seandainya Sultan Agung tidak merubah Kalender Jawa dengan cara meng-akulturasi-kan Kalender Jawa, Kalender Hijriah dan Kalender Caka Hindhu, tentu kalender Jawa sekarang berangka tahun 2922. Sedangkan antara Kalender Jawa dan huruf Jawa saling terkait dengan dasar Sangkan Dumadining Bawana adalah Wadah, sedangkan Sangkan Paraning Dumadi adalah Isi. Perlu kita ketahui kalau Kalender Jawa adalah kalender paling lengkap di dunia, karena mengakomodasi makrokosmos (bawana ageng) dan mikrokosmos (bawana alit). Sedangkan kalender lain seperti kalender Masehi hanya mengakomodasi makrokosmos, bahkan kalender lain sekedar hitungan angka. 

        • DR. Sukmono dalam buku “CANDI BAROBUDUR” penerbit Pustaka Jaya. 1986.

        Dalam buku tersebut tertulis pada abad 7- 8 bangsa kita mengalami masa kejayaan dan keemasan, dengan bukti banyaknya candi  besar dan megah yang dibangun pada masa itu. Sekarang mari kita renungkan, sangat mustahil bangunan – bangunan yang besar, agung dan megah itu bisa berdiri kalau tidak ditunjang dengan majunya ilmu pengetahuan dan tehnologi (untuk membangun rumah kecil saja kita memerlukan SDM, ilmu pengetahuan dan tehnologi). Kira – kira ilmu pengetahuan dan tehnologi apa saja yang mendukung berdirinya suatu pembangunan atau terciptanya suatu maha karya :

        =>    Ilmu pengetahuan tata  Negara dan pemerintahan  yang stabil.

        Termasuk disini kondisi sosial, ekonomi, politik, dan keamanan yang stabil dan terkendali. Suatu contoh, pembangunan jembatan SURAMADU, ide awal oleh presiden Soekarno, baru terwujud pada masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono. sudah berapa puluh tahun dan berapa kali ganti pemerintahan baru terwujud, itupun atas bantuan negara lain bukan atas kekuatan bangsa kita sendiri. Ini merupakan bukti kalau  kondisi sosial, ekonomi, politik dan keamanan  sangat berpengaruh pada suatu pembangunan. Sementara menurut perkiraan para Arkeolog, Candi Borobudur proses pembangunannya selama 104 tahun.

        =>    Ilmu pengetahuan dan tehnologi bangunan, termasuk disini ilmu rancang bangun/ arsitektur, ilmu kontruksi serta ilmu pengetahuan dan tehnologi lain yang terkait dengan pendirian suatu bangunan. Candi Borobudur merupakan bukti kalau pada abad 7-8 bangsa kita sudah menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi kontruksi tingkat tinggi, yaitu Tekhnologi Kontruksi Keseimbangan Angin atau Technology Air Balance Contruction.

        Bila dalam legenda rakyat diceritakan kalau dalam pendirian suatu Candi pasti terkait dengan kesaktian seorang tokoh dan mahkluk goib (takhayul) serta hal – hal lain yang bersifat irasional. Memang benar kata Albert Einsten, “ketika rasio (akal) manusia tidak mampu menjangkau, dia akan mengatakan sesuatu itu irasional” tetapi “kalau rasio (akal) manusia mampu menjangkau , dia akan mengatakan sesuatu itu rasional”.

        =>    SDM yang mumpuni dan ahli di bidangnya, mulai :

        1. Ahli manajemen
        2. Ahli logistic
        3. Ahli rancang bangun/ arsitektur
        4. Ahli tata ruang
        5. Ahli pahat
        6. Ahli sastra

        Dan, barang kali masih banyak lagi para ahli dengan tingkat SDM yang tinggi. Karena tanpa didukung SDM yang tinggi tidak mungkin suatu maha karya akan terwujud. Sekarang yang menjadi pertanyaan, berapa populasi bangsa kita waktu itu.  Dari perkiraan beberapa ahli, diperkirakan populasi bangsa kita waktu itu (abad 7-8)  ± 500.000 jiwa. Tetapi dengan jumlah populasi yang tidak begitu banyak bangsa kita mampu membuat sebuah Mahakarya. Sementara bangsa kita saat ini (2011) dengan jumlah populasi ± 250.000.000 jiwa, apa prestasi tingkat dunia yang dicapai bangsa kita. Apakah dengan tercatatnya bangsa kita dalam daftar bangsa terkorup di dunia merupakan suatu prestasi ?   Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi bangsa kita dimasa itu sudah cukup maju. Coba kita bayangkan, seandainya kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut terus berkembang pesat sampai sekarang, pastilah banyak penemuan – penemuan ilmu pengetahuan dan tehnologi baru hasil pemikiran bangsa kita, yang mana ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut sangat berpengaruh pada kehidupan manusia di seluruh dunia. Karena kalau penemunya bangsa kita (Jawa), pastilah  berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut memakai bahasa Jawa, dan akhirnya seluruh dunia mempelajari bahasa Jawa.
        Dalam agama Islam ada sebuah Hadits Rasululloh “Uthulubul Ilma Walau Bissyin” artinya Tuntutlah atau carilah ilmu walau sampai Negeri “Ssyin”. Selama ini negeri Ssyyn diartikan Negeri Cina. Setelah kita kaji Negeri Ssyyn tidak menutup kemungkinan adalah negeri Syainlendra, dengan dasar :

        1. Masa kehidupan yang sama, antara Nabi Muhammad dengan Raja Syainlendra dari kerajaan Mataram kuno. yaitu abad  ke 7. karena sesuatu yang janggal kalau kita menasehati anak kita, supaya mencari ilmu pada orang yang sudah meninggal ratusan tahun silam atau pada orang yang belum lahir, secara logika pastilah kita akan merekomendasikan pada seseorang yang satu masa kehidupan.
        2. Pada masa itu negeri Syainlendra termasuk negeri yang maju dan terkemuka di dunia, dengan bukti berbagai peninggalannya. Terutama candi Borobudur dan Prambanan.
        3. Letak yang cukup jauh dan menyeberang samudera (bila dibanding Cina, yang masih satu daratan dengan jazirah Arab), karena disini untuk symbol walau jauh dan sulit harus ditempuh dalam menuntut ilmu, karena Hadits ini terkait dengan Hadits lain yang memiliki arti kalau mencari ilmu itu wajib untuk Muslimin dan Muslimat.
        4. Pada abad 7-8 di negeri Cina (yang selama ini menjadi perkiraan Ulama) tidak ada sesuatu yang sangat monumental dalam catatan sejarah, bahkan pada masa itu ada perang saudara antar Dinasty. Selain hal tersebut pada masa itu tidak ada satupun literature sejarah Tiongkok yang menyebut kata “CINA” , tetapi berbagai literature sejarah menyebut kata “TIONGKOK”.
        5. Borobudur ada persamaan makna dan filosofi dengan Al Qur’an. Puncak Borobudur ada relief dan stupa jumlahnya satu, makna filosofinya ada kesamaan dengan Al Qur’an  Surat Pertama. Begitu pula ketika kita turun ada relief dan Stupa jumlah 8 dengan Al Qur’an Surat 8, begitu seterusnya 16, 32, 64 dan 72.

        Terlepas benar atau tidaknya analisa ini, tidak ada salahnya kalau hal ini kita jadikan motivasi untuk kembalinya Jawa demi bangkit dan jayanya bangsa nusantara atau Indonesia ini. Karena selama ini kata “Syin” diartikan Cina juga merupakan sebuah perkiraan.

        • Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Jawa Yang Sudah Hilang.

        Dalam hal ini sangat perlu kita membuka wawasan dan memberi pengertian pada seluruh komponen bangsa, tentang ilmu pengetahuan dan teknologi budaya Jawa (Javanologi) yang bermanfaat dan bisa membawa kejayaan serta kemakmuran. Karena selama ini kita terlena dan tidak peduli, sehingga saat ini banyak ilmu pengetahuan dan teknologi budaya Jawa yang telah diambil alih atau hak patentnya telah dimiliki oleh bangsa atau negara lain, diantaranya :

        1. Tempe hak patent ada pada Jepang.
        2. Salah satu perangkat Gamelan (Gong) untuk pengobatan penyakit akut dan kronis dimiliki Bernadette de maele dari Belgia.
        3. Berbagai jenis varietas padi Jawa dimiliki oleh beberapa negara lain. Padahal padi Jawa memiliki kandungan vitamin, mineral dan karbohidrat seimbang, sedangkan beras yang kita komsumsi saat ini lebih dominan kandungan karbohidrat. Sehingga akhir-akhir ini masyarakat kita banyak yang mengidap penyakit kencing manis, keropos tulang, asam urat, dll. Karena dalam karbohidrat banyak kandungan zat gula, sedangkan kandungan vitamin dan mineral sangat kurang.
        4. Dan masih banyak lagi ilmu pengetahuan dan tekhnologi budaya Jawa yang diambil alih atau diklaim negara lain karena masyarakat dan pemerintah (pemegang kebijakan) tidak memiliki kepedulian secara maksimal, termasuk beberapa waktu yang lalu Reog diklaim Malaysia.

        Beberapa waktu lalu ada wacana  di berbagai media, supaya Kemendiknas (Dept. P & K) tidak begitu mudah memberi gelar “Profesor”  dan kalau perlu gelar  “Profesor” yang sudah disandang orang sebagian dicabut. Bila seseorang yang akan mendapat atau yang sudah  menyandang gelar “Profesor”  tersebut tidak mampu menemukan sesuatu  (ilmu pengetahuan dan tehnologi) yang  bermanfaat dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak, jadi  tidak hanya pembacaan “Desertasi Ilmiah”  yang hanya dibacakan di Kampus saja, tetapi tidak “Aplikatif” di kehidupan masyarakat umum. Sebenarnya wacana ini cukup bagus, tapi tidak tahu mengapa wacana ini tidak bersambut atau berkembang, malah sekarang wacana ini hilang bagai ditelan angin.
        Mulai kapan adanya deviasi atau terputusnya transformasi Iptek budaya Jawa, tentu hal ini yang terpikir dibenak kita semua. Beberapa kalangan pengarang sastra Jawa berpendapat , kita tidak perlu risau dan cemas akan nasib bahasa Jawa, karena bahasa Jawa pasti akan tetap ada, hanya saja berubah bentuk. Bahasa  Jawa kuno/kawi, bahasa Jawa madya/tengahan, bahasa Jawa anyar dan nanti menjadi bahasa “Jawa Modern”. Pendapat atau pemikiran ini tidak salah, karena hanya berdasarkan pada sisi  bahasa dan sastra, tetapi bagaimana dengan masalah “Transformasi Budaya”  yang di dalamnya berisi berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi….? Barangkali yang terjadi adalah terpuruknya bangsa ini. Karena seperti yang kita ketahui dalam sejarah,  dari Jawa Kuno (Kawi)  ke Jawa Madya (tengahan) masih ada kesinambungan “Transformasi  Budaya” sehingga bangsa kita pada masa itu masih tercatat di dunia dengan sejarah-sejarah dan bukti sejarah yang monumental, karena  perubahan transpormasi budaya tidak terlalu jauh atau terputus. Pada masa pemakaian bahasa Jawa madya (kira-kira abad 13-15), bahasa Jawa Kuno (Kawi) masih banyak atau sering dipergunakan, serta pemahamannya masih kuat. Tetapi ketika perubahan dari bahasa Jawa Madya ke bahasa Jawa Anyar (kira-kira abad 15-20)  nampaknya “Transformasi Budaya”  tidak berjalan dengan baik atau barangkali malah terputus sama sekali, sehingga bangsa kita mengalami keterpurukan dan kehancuran yang amat sangat. Sedangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi dunia cukup pesat, khususnya dunia Barat yang setelah mengalami masa kegelapan abad 12-14 dan mereka mengalami masa kejayaan mulai abad 16-17 sampai sekarang.

        III.     JATI DIRI BANGSA

        Jati Diri berasal dari kata Sejati dan Diri (pribadi). Jatidiri berarti merupakan suatu kesatuan dari suatu kehidupan sebuah Diri (pribadi) yang Sejati, yang tidak berpura-pura atau meniru dari Diri (pribadi) lain. Sehingga yang dimaksud Jatidiri bangsa Nusantara adalah suatu warna kehidupan yang betul-betul (sejati) dari budaya yang ada di Nusantara ini, tidak bersifat pura-pura atau meniru warna kehidupan lain. Entah dari Eropa, Timur Tengah, India ataupun Cina.
        Hai Manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Alloh maha mengetahui lagi maha mengenal. (QS. 49:13)
        Al Quran adalah firman Alloh yang mengandung nilai-nilai filosofi tinggi, Sehingga maksud dari “supaya saling kenal-mengenal” tidaklah sekedar kenalan nama, tetapi meliputi saling kenal-mengenal “Jatidiri Bangsa atau Nations Caracters Building”.
        Beberapa bangsa atau negara besar di dunia, yang memiliki dan memegang teguh Jatidiri bangsanya antara lain : Inggris, Cina, Jepang, Jerman, Dll. Bahkan demi menelusuri dan mencari Jatidiri bangsa, Jerman menghabiskan biaya yang sangat besar, sampai didapat kepastian Jatidiri bangsa Jerman adalah bangsa Aria.
        Sedangkan kalau suatu bangsa mengingkari Jati Diri Bangsanya, ternyata keterpurukan dan kehancuran yang terjadi. Bangsa atau Negara di Dunia ini yang mengingkari Jati Diri Bangsa dan mengalami keterpurukan antara lain :

        1. Pakistan sebenarnya Bangsa India tapi lebih cenderung Arabansi.
        2. Irak sebenarnya bangsa Persia tapi lebih cenderung Arabansi.
        3. Turki sebenarnya Bangsa Arab tapi lebih cenderung Eropaansi.
        4. Yugoslavia sebenarnya Bangsa Balkan terpecah : Bosnia cenderung Arabansi dan Serbia cenderung Eropaansi.
        5. Dll.

        Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya !
        Karena itulah Bung Karno menyerukan pada Bangsa Indonesia dengan istilah Nations Carakters Building dan Trisakti :

        1. Berdaulat di bidang Politik.
        2. Berdikari di bidang Ekonomi.
        3. Berkepribadian di bidang Budaya.

        Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai keterpurukan karena tidak memegang teguh Jatidiri bangsa (Nations Carakters Building). Jatidiri bangsa dan budaya bangsa adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan karena indikator “Jatidiri Bangsa adalah Budaya Bangsa”. Banyak orang Indonesia yang tidak Indonesia, banyak orang Jawa yang tidak Jawa. Semua ini menggambarkan keterpurukan atau hancurnya bangsa kita bukan karena serangan bangsa atau negara lain dengan kekuatan militer yang lengkap serta canggih persenjataannya, tetapi dikarenakan hilangnya budaya dan bahasa Jawa sebagai jatidiri bangsa di Nusantara ini.
        Bagi kita yang beragama Islam khususnya Penulis merasa diingatkan, dibangunkan dari tidur panjang dan sangat setuju dengan kata – kata tokoh pak Yoga ( Anwar Fuady) dalam sinetron “Kiamat Sudah Dekat” di Sutradarai, Dedy Miswar. Ditayangkan oleh SCTV beberapa tahun yang lalu. Alur cerita sinetron tersebut sangat rasional dan menyentuh hati nurani, sampai – sampai presiden Susilo Bambang Yudoyono juga ikut tersentuh hatinya. Pak Yoga berkata “ Apa hak orang Islam masuk surga ? sementara mereka tidak pernah ikut memajukan dan memakmurkan dunia”. Menurut Penulis, kata – kata tersebut juga cocok ditujukan pada orang Indonesia secara umum khususnya orang Jawa, jadi tidak hanya untuk orang Islam saja. Karena selama ini, kita hanya sebagai penonton dan pemakai dari berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi.  Dalam sinetron tersebut juga memunculkan jati diri bangsa, pak Haji (Dedy Miswar) sangat kental dengan nuansa Betawi, mulai pakaian, makanan, cara bicara, panggilannya, cara berpakaian, atribut, dll. Di sinetron ini Dedy Miswar nampaknya ingin memunculkan kesan bahwa orang Islam di Indonesia tidak harus Arabansi, tetapi tetap mempunyai jati diri dengan budaya bangsanya sendiri. Seperti halnya candi Borobudur (maupun candi lain) bukanlah budaya agama Budha murni, tetapi candi Borobudur adalah merupakan budaya bangsa kita  (Jawa), secara kebetulan saja pemimpin kerajaan pada masa itu penganut agama Budha. Orang Jawa masa itu mampu mempunyai dan mewujudkan jati diri dengan budaya bangsanya sendiri tanpa harus Indiaansi walaupun agama Budha atau Hindhu berasal dari India. Kalau suatu budaya berinteraksi dan berakulturasi dengan budaya lain adalah sesuatu yang wajar serta dinamis, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan jati diri atau identitas sebagai suatu bangsa yang besar dengan segala kebesarannya.
        Saat ini karena banyak diantara kita yang sudah kehilangan Jati diri, akhirnya banyak yang tega menjual dan mengekploitasi Tanah Air, Bangsa dan Negara kepada Bangsa dan Negara lain demi sesuap nasi yang dilahap sesaat. Semua itu dibungkus dengan warna Agama, Politik, Ekonomi, dll. Akhirnya Bangsa ini (TKW/TKI), Kekayaan Negara  (pertambangan, perkebunan, hutan), Kekayaan Intelektual, Sosial-Budaya, semua habis terjual, tergadaikan, atau hilang bahkan dirampok bangsa/negara lain. Semua berlomba-lomba menjual Bangsa dan Negara. Dengan dalih modernitas, ekonomi atau Agama, kita ekploitasi bangsa kita supaya setor devisa pada bangsa atau Negara lain, tidak hanya setiap tahun, tetapi setiap waktu, setiap saat.  Sekarang ini bangsa kita sudah terpuruk dan diambang kehancuran tanpa harus diserang oleh negara lain dengan kekuatan militer dan persenjataan yang lengkap serta canggih. Tetapi terpuruk dan hancurnya bangsa kita sekarang karena hilangnya budaya dan bahasa nusantara (Jawa) yang merupakan Jatidiri dari bangsa Nusantara ini,
        Mari kita renungkan, apakah kata “Indonesia” perlu diganti atau tidak. Kalau kita telusuri, yang memberi nama “Indonesia” adalah seseorang yang bernama A. Sebastian, seorang sarjana Eropa dalam tulisannya mengenai daerah yang menjadi jajahan Belanda. Indonesia berasal dari dua kata Indo- Nesos, maksudnya bagian atau wilayah jajahan dari Nesos atau Nederland yang  ada di Hindia, atau daerah Indo atau India yang menjadi milik Nesos atau Nederland (Belanda), dengan kata lain disebut HINDIA-BELANDA, untuk membedakan wilayah yang menjadi jajahan bangsa Eropa lainnya (Inggris, Portugis). Seperti Malaysia adalah daerah Hindia yang menjadi milik Inggris. Sedangkan dalam bahasa Yunani (menurut Plato),  Nesos berarti pulau atau kepulauan, Indonesia berarti Kepulauan India. Secara tidak langsung kita masih kehilangan Jati diri, secara tidak langsung kita masih mengakui sebagai jajahan Belanda. sehingga kita sering terombang-ambing oleh politik luar negeri kita sendiri atau berbagai kebijakan politik dunia. Bagaimana dengan kata Nusantara, yang asli dari bahasa Induk Semang kita, bahkan mulai masa ratusan tahun silam sudah sering disebut-sebut oleh para nenek moyang atau leluhur kita dengan kata NUSANTARA atau DWIPANTARA. Kalau Muangthai berani berubah menjadi Thailand, Siam berani berubah menjadi Kamboja. Kenapa kata Indonesia tidak bisa ganti nama menjadi NUSANTARA ? demi Jatidiri Bangsa yang akan membawa bangsa  dan negara kita pada kejayaan dan kemakmuran.

        IV     RENUNGAN CATATAN SEJARAH BANGSA

        Dari ulasan didepan sudah bisa menggambarkan begitu pentingnya budaya dan bahasa Jawa, karena merupakan jati diri bangsa nusantara (Indonesia) dan sangat mempengaruhi segala aspek dalam hidup dan kehidupan bangsa kita, entah secara mikro maupun makro. Dalam sejarah bangsa kita tercatat :
        =>    Ketika budaya dan bahasa Jawa masih kuat dan dipegang teguh dalam hidup dan kehidupan bangsa kita sebagai jatidiri bangsa:

        1. Kerajaan Mataram dengan masa pemerintahan yang sangat lama berabad-abad (abad 7 – 10) hancurnya karena bencana alam yaitu gunung Merapi meletus, selanjutnya oleh Mpu Sinduk dipindah ke arah timur (daerah Nganjuk dimasa sekarang) menjadi kerajaan Medangkamulan.
        2. Kerajaan Medangkamulan – Kahuripan – Daha/Kediri, dengan masa pemerintahan    1042-1222 M. Kerajaannya runtuh karena seiring dengan perkembangan jaman adanya kesadaran kemaritiman yang diprakarsai oleh Ken Arok. Sehingga oleh salah satu perwira TNI angkatan laut (R Hadi Sutaryo dalam bukunya Sejarah Ken Arok), Ken Arok disebut Bapak Maritim Indonesia. Dikaji kembali dalam forum diskusi kejiwaan di komplek Angkatan Laut Kelapa Gading. Anggota forum diskusi tersebut antara lain : PC. Mudjio, Hadi Soebroto, M. Suhardji, SE, MM., Kartiono,  Cece Kumala, Ruju Brono Pramusti, Karno Rumboko dan Irvianto (tahun 2003).
        3. Kerajaan Singhasari dengan masa pemerintahan 1222-1292 M. Kerajaan hancur karena pengkhianatan menantunya Raja Singhasari terakhir (Arya Ardaraja) yang tidak memiliki jati diri dan berkarakter, lebih cenderung bersikap munafik.
        4. Kerajaan Majapahit dengan masa pemerintahan ± 2 abad (1293–1527 M), hancur karena mulai hilangnya Jawa sebagai jati diri bangsa sehingga mengakibatkan banyak konflik.

         

        =>    Ketika budaya dan bahasa Jawa mulai luntur atau hilang dalam hidup dan kehidupan bangsa kita sebagai jatidiri bangsa:

        1. Kerajaan Demak dengan masa pemerintahan 1521–1548 M. Hancur karena konflik keluarga antara Pangeran Sedolepen (ayahhanda Aryo Panangsang) dengan saudaranya yang akhirnya menjadi Raja Demak terakhir (Sultan Trenggono). Akhirnya pemerintahan dipindahkan ke Pajang oleh menantu Sultan Trenggono (Joko Tingkir), dan bergelar Sultan Hadiwijaya.
        2. Kerajaan Pajang dengan masa pemerintahan 1568–1586 M. Hancur karena pemberontakan anak angkatnya sendiri (Danang Sutawijaya) dan mendirikan kerajaan Mataram bergelar Panembahan Senopati.
        3. Kerajaan Mataram Baru (kata baru untuk membedakan dengan Mataram yang terdahulu) dengan masa pemerintahan 1588–1681 M hancur pada masa kerajaan dipimpin oleh Sunan Amangkurat II karena pemberontakan Trunojoyo, serta disisi lain mulai masuknya pengaruh VOC. Kerajaan pindah ke Kartosuro. Pada masa kerajaan Mataram ini sebenarnya Jatidiri Jawa kembali menguat, terutama pada masa pemerintahan Sultan Agung. Sehingga pada masa pemerintahan Sultan Agung kerajaan Mataram mengalami masa keemasan atau kejayaan, pada masa ini banyak karya senibudaya serta sastra bermunculan, termasuk meng-akulturasi-kan kalender Jawa dengan kalender Caka Hindhu dan kalender Hijriah.
        4. Kerajaan Kartosuro dengan masa pemerintahan 1680–1742 M. Kerajaan hancur karena banyak konflik keluarga. Pada masa pemerintahan Sunan Tegalarum ada peristiwa geger Pecinan, Kutaraja terbakar habis. Sehingga Kerajaan dipindahkan ke Surakarta.
        5. Kerajaan Surakarta dengan masa pemerintahan 1742–1755 M. Hancur karena perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono II. Kerajaan dibagi menjadi 4 kerajaan kecil (Kasunanan, Kasultanan, Pakualaman dan Mangkunegaran) yang sudah tidak lagi memiliki kewibawaan selayaknya Kerajaan, karena dalam tekanan VOC (Belanda).

        Catatan sejarah bangsa kita tersebut tentunya perlu kita renungkan dan kita kaji untuk kita jadikan awal kebangkitan Bangsa Indonesia seperti yang dicita-citakan sang proklamator     Ir. Soekarno. Karena saat ini masa pemerintahan negara Indonesia baru 66 tahun tetapi indikator kehancuran atau keterpurukan sudah nampak diberbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

        V.      KESIMPULAN

        Kalau kita semua selama ini dalam berfikir tentang budaya dan bahasa Jawa, bisa dikatakan sangat sederhana, bahkan cenderung kita pandang sebelah mata. mari mulai sekarang kita ubah cara pandang tersebut. Setelah kita semua memahami, kalau didalam budaya Jawa banyak terdapat ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa dikembangkan untuk kemaslahatan orang banyak, pastilah kita akan berusaha untuk mempelajari bahasa Jawa. Karena bahasa Jawa merupakan pintu untuk memasuki atau membuka sebuah “Rumah Besar” yang disebut budaya Jawa tersebut. Setelah cara pandang kita terhadap budaya dan bahasa Jawa lebih komprehensif, pastilah yang kita dapat tidak hanya sebuah pengakuan kearifan lokal atau lokal genius tapi akan ada pengakuan global genius.
        Sementara itu, ada beberapa kalangan yang berfikir tidak suka budaya dan bahasa Jawa karena dianggapnya ruwet dan terlalu banyak aturan. Padahal harus kita sadari, kalau semakin tinggi suatu peradaban, akan semakin banyak dan detil dalam membuat aturan. Hal ini juga merupakan bukti kalau budaya dan bahasa Jawa sangat tinggi nilai peradabannya. Seorang peserta Konggres Bahasa Jawa III dari Inggris pernah mengungkapkan hal ini, terkait kekagumannya terhadap budaya dan bahasa Jawa.
        Sekarang bagaimana kita mau meningkatkan pemahaman dan pemikiran tentang budaya dan bahasa Jawa di masyarakat umum. Walaupun saat ini banyak diantara kita yang sudah tidak mampu lagi memakai dan menuturkan bahasa Jawa yang baik dan benar. Barangkali cara ini bisa dipakai, yaitu :

        1. Cara pandang terhadap bahasa dan budaya Jawa harus lebih komprehensif.
        2. Tidak negative thingking (buruk sangka) terhadap budaya dan bahasa Jawa.
        3. Pengakuan global genius, sehingga mempelajari budaya dan bahasa Jawa merupakan suatu hal yang penting dan membanggakan.
        4. Ada kesadaran penuh, bila mau mempelajari budaya dan bahasa bangsa lain, kita harus mampu menguasai budaya dan bahasa Jawa terlebih dahulu.

        Sehingga budaya dan bahasa asing hanya melengkapi apa yang kita tidak punya, tetapi tidak mengubah warna dari budaya atau jatidiri bangsa kita.
        Semoga setelah ini, “Budaya dan Bahasa Jawa Tidak Lagi Menangis Di Simpang Jalan”, karena masyarakatnya sudah menemukan  jatidiri atau jalan yang tepat kemana harus melangkah dan menentukan pilihan dalam hidup dan kehidupan.
        Selain beberapa langkah tersebut diatas, ada cara lain untuk mempelajari bahasa Jawa, khususnya untuk para pemula, yaitu :

        =>   Penyederhanaan “Undho -  Usuk” bahasa Jawa, karena selama ini banyak generasi muda enggan mempelajari dan memakai bahasa Jawa dengan alasan ruwet disebabkan banyaknya tingkatan (Undho – usuk) dalam bahasa Jawa. Barangkali untuk tingkat pemula cukup dengn istilah “krama andap dan krama inggil”. Contoh :

        i.  Krama Andap : nyaosi, nyuwun, nyuwun priksa.
        ii. Krama inggil : maringi, mundhut, ndhangu.
        Sedangkan dalam pemakaiannya krama andap untuk diri sendiri dan krama inggil untuk lawan bicara terutama orang yang dihormati.

        =>   Bahasa Janesia : kata Janesia berasal dari kata Jawa-Indonesia, mengenai bahasa Janesia ini awalnya dimunculkan oleh Almarhum Bapak Soebroto, SH (Ketua Umum LP3BJ & ORMAS Raket Prasaja, 1999-2004). Bahasa Janesia barangkali bisa disebut juga dengan bahasa Jawa Modern, tetapi ada beberapa prinsip pokok antara  lain :

        i.  Kata kerja memakai bahasa jawa, krama andhap atau krama inggil.
        ii. Kandungan falsafah  cukup dominan.
        Tetapi bahasa Janesia tidak bisa menjadi pintu untuk membuka ilmu pengetahuan dan tekhnologi budaya Jawa secara komprehensif seperti pada masa kejayaan leluhur kita dulu. Bahasa Janesia hanya merupakan alternatif dalam perubahan dinamika bahasa Jawa untuk penanaman etika atau tatakrama pada generasi muda. Sehingga dalam langkah selanjutnya tetap harus mempelajari bahasa Jawa yang baik dan benar.
        Akhir kata, penulis sangat menyadari akan berbagai keterbatasan, sehingga mohon sumbang – saran dari berbagai pihak. Serta mari kita berjuang-bangkit bersama menggali, mengembangkan dan melestarikan budaya dan bahasa Jawa demi kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bangsa kita.
        Malang,                         Oktober 2011
        Penulis,

         

        KRT. Sutrimo RB, SE., MM

        Posted under: Artikel

        Leave a Reply

        Your email address will not be published. Required fields are marked *

        You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">