KENAPA BANGSA KITA TERPURUK ?

I.     PENDAHULUAN
Kalimat diatas sudah mengusik pikiran dan hati nurani kami mulai tahun 1995. setelah mengalami berbagai pertimbangan dan masukan, akhirnya kami mendirikan Yayasan “Raket Prasaja”, karena perkembangan organisasi dan antusias masyarakat umum terhadap kegiatan kita cukup bagus, akhirnya tahun 2007 beralih status menjadi LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”. Menurut kami terpuruknya bangsa Indonesia karena kita telah kehilangan jati diri sejak abad 16. Kehilangan jati diri itu semakin parah pada akhir-akhir ini. Saat ini banyak orang suku Jawa yang tidak Jawa, banyak orang Indonesia yang tidak Indonesia, yang intinya kita telah kehilangan jati diri. Sebagian dari kita ada yang bersikap dan berkarakter kebarat-baratan dan ada sebagian dari kita yang bersikap dan berkarakter kearab-araban. Saat ini kita bahkan sudah lupa bagaimana sikap dan karakter orang Indonesia yang Indonesianis dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Kondisi seperti ini semakin diperparah oleh beberapa tayangan televisi. Sering kali kita melihat tayangan televise ( Film, Sinetron, dll) peran antagonis berciri-khas dari daerah (suku) tertentu. Sedangkan peran protagonis berciri-khas budaya dari suatu bangsa asal suatu agama tertentu. Sehingga semua ini berakibat pembunuhan karakter dan jati diri bangsa. Orang Jawa berdusta pada Jawanya, orang Batak berdusta pada Bataknya, orang Minang berdusta pada Minangnya, orang Dayak berdusta pada Dayaknya, dll.  Seharusnya kalau peran antagonis berciri khas (nama, pakaian, logat bicara, atribut, dll) daerah atau suku tertentu seharusnya peran protagonist juga harus berciri khas daerah atau suku tersebut. Begitu juga, kalau peran  protagonist berciri khas agama tertentu, seharusnya peran antagonis juga harus berciri khas agama tersebut. Karena semua agama pasti mengajarkan kebaikan dan kebenaran, tetapi prilaku umatnya yang sesat atau negative juga ada.
Apakah  kalau kita berkarakter dan memiliki jatidiri Jawa, Batak, Minang, Dayak, dll, akan mengancam persatuan dan kesatuan NKRI ? atau akan menjadi sesat menurut agama yang kita anut ? tentu kalau semua itu didasari dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, tentulah pasti akan menjadi suatu potensi yang besar untuk menjadikan kita menjadi  bangsa yang besar dengan segala kebesarannya. Pelangi di Cakrawala akan semakin indah dengan berwarna-warni, dan tidak akan jadi pelangi yang indah bila cuma satu warna. Sementara kalau soal sesat atau tidak tentu tergantung siapa dan dari sudut mana kita memandang.
Contoh : saat ini banyak kalangan yang alergi dengan kata “JAWA”, karena mereka berfikir seolah-olah Jawa itu hanya berkonotasi sukuisme atau aliran kepercayaan, mistik, klenik, kuno, bahkan ada yang menganggap sesat. Padahal “JAWA” bermakna sebuah karakter universal yang  berjati diri. Hal itu  terkandung dalam filosofi hurup Jawa. Semua hurup Jawa kalau “dipangku” mati, kecuali hurup JA – WA,  maksudnya ; siapapun kita, apapun kedudukan atau jabatan kita, apapun suku kita, apapun agama atau keyakinan kita, kalau dipangku masih “mati” (kita menjadi takabur dan lupa daratan) berarti kita belum “JAWA”, walaupun kita keturunan suku Jawa. Jawa barangkali bisa berarti “Mukmin” kalau di Arab, juga bisa berarti “Wisdom Carakter”  atau “Wisdom Careful”, jika di Eropa atau Amerika.
Ada sebuah cerita menarik menjelang pesta demokrasi Pemilu atau Pilkada (Gubernur, Bupati/Walikota) selalu ada saja peserta kontestan pesta demokrasi yang mencoba mendekati LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja. Tetapi kami selalu mengajukan syarat : Calon tersebut harus menjadi lebih “JAWA” maupun paham serta mengerti SPIRIT OF JAVA tidak cuma  sekedar suku Jawa. Sehingga dalam hal ini bisa suku Jawa, tapi bisa juga bukan suku Jawa (tidak harus suku Jawa). Karena arti JAWA yang sebenarnya bukanlah berarti sukuisme ataupun teritorial. karena Ironis sekali……?  Mau jadi apa Negeri ini kalau Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama tidak “JAWA” ?

II.     KILAS BALIK SEJARAH BANGSA
Dalam sejarah, bangsa kita pernah jadi pemimpin dunia. Kerajaan Kutai-Kudungga, Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijawa, Kahuripan, Kediri, Singhasari dan Majapahit. Kisah kejayaan para leluhur kita bukanlah pepesan kosong  tanpa bukti, saat ini sisa-sisa dan bukti kejayaaan itu masih ada dan berdiri megah di depan mata kita. Antara lain : Candi Prambanan, Candi Borobudur, dll. Kita harus sadar kalau candi Borobudur bukan budaya Budha, tetapi asli budaya Indonesia (Jawa), Cuma kebetulan orang yang membangun candi Borobudur adalah orang Indonesia (Jawa) yang beragama Budha. Kalau seandainya candi- candi tersebut budaya Budha atau Hindhu tentu banyak sekali candi-candi serupa di India, karena dari sanalah asal agama Budha dan Hindhu. Semua itu menunjukkan kunci kalau leluhur kita bisa jaya karena tetap memegang teguh jati diri bangsa, walau apapun keyakinan atau agama yang mereka anut atau yang mereka yakini. Mereka tidak serta-merta menjadi atau berprilaku Indiansi walau beragama Hindhu atau Budha.
Dalam agama Islam ada sebuah Hadits Rasululloh “Uthulubul Ilma Walau Bissyyn” artinya Tuntutlah atau carilah ilmu walau sampai Negeri “Ssyyn”. Selama ini negeri Ssyyn diartikan Negri Cina. Setelah kita kaji Negri Ssyyn tidak menutup kemungkinan adalah negri Syailendra, dengan dasar :

  1. Masa kehidupan yang sama, antara Nabi Muhammad dengan Kerajaan Syailendra. yaitu abad  ke 7. karena sesuatu yang aneh kalau kita menasehati anak kita, supaya mencari ilmu pada orang yang sudah meninggal ratusan tahun silam atau pada orang yang belum lahir.
  2. Masa itu negri Syailendra termasuk negri maju dan terkemuka di dunia, dengan bukti berbagai peninggalannya.   Terutama candi Borobudur dan Prambanan.
  3. Letak yang cukup jauh dan menyeberang samudera (bila dibanding Cina, yang masih satu daratan dengan jazirah Arab), karena disini untuk symbol walau jauh dan sulit harus ditempuh dalam menuntut ilmu, karena Hadits ini terkait dengan Hadits lain yang memiliki arti kalau mencari ilmu itu wajib untuk Muslimin dan Muslimat.
  4. Pada abad 7 di negri Cina (yang selama ini menjadi perkiraan Ulama) tidak mencatat prestasi dunia. Bahkan pada masa itu tidak ada satupun literature yang menyebut kata “CINA” , tetapi berbagai literature menyebut kata “TIONGKOK”.
  5. Borobudur ada persamaan makna dan filosofi dengan Al Qur’an. Puncak Borobudur ada relief dan stupa jumlahnya satu, makna filosofinya ada kesamaan dengan Al Qur’an  Surat Pertama. Begitu pula ketika kita turun ada relief dan Stupa jumlah 8 dengan Al Qur’an Surat 8, begitu seterusnya.

Semua itu menunjukkan kalau bangsa kita pernah mengalami kejayaan, kenapa sekarang bangsa kita terpuruk….. ? semua itu karena akibat kita telah kehilangan jati diri, coba kita lihat nagara-negara besar di dunia, adalah Negara- negara yang memegang teguh jati diri bangsanya, contoh : Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, Cina, dll.

III.    KESIMPULAN
Al Qur’an Surat Al Hujuraat, Ayat 13 menjelaskan kalau Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling “kenal-mengenal”. Bahasa Al Qur’an adalah bahasa filosofi dan mengandung nilai-nilai falsafah yang tinggi. Makna “Untuk Saling Kenal-Mengenal” jangan diartikan secara dangkal dengan hanya sekedar kenalan nama belaka, tetapi makna “Saling Kenal-Mengenal” adalah pengenalan suatu jati diri dari suku bangsa-suku bangsa di Dunia. Kalau kita, karena beragama Katholik terus Romaansi, karena kita beragama Hindhu atau Budha terus Indiaansi, atau karena kita beragama Islam terus Arabansi atau Arabisasi. Menjadikan kita kehilangan Jati diri atau merubah Jati diri, apakah prilaku ini berarti “mengkhianati Al Qur’an ….? Wallohu allam. Tetapi saat ini banyak diantara kita yang berperilaku demikian.
Saat ini karena banyak diantara kita yang sudah kehilangan Jati diri, akhirnya banyak yang tega menjual dan mengekploitasi Tanah Air, Bangsa dan Negara pada Bangsa dan Negara lain demi sesuap nasi yang dilahap sesaat. Semua itu dibungkus dengan warna Agama, Politik, Ekonomi, Pembangunan, dll.   Akhirnya Bangsa ini (TKW/TKI), Kekayaan Negara  (pertambangan, perkebunan, hutan), Kekayaan Intelektual, Sosial-Budaya, semua habis terjual, tergadaikan, atau hilang. Semua berlomba-lomba menjual Bangsa dan Negara. Dengan alasan modernitas atau dengan alasan Agama kita ekploitasi bangsa kita supaya setor devisa pada bangsa atau Negara lain tidak hanya setiap tahun, tetapi setiap waktu, setiap saat. 
Mari kita renungkan, apakah kata “Indonesia” perlu diganti atau tidak ?  kalau kita telusuri, yang memberi nama “Indonesia” adalah A. Sebastian warga Negara Belanda, dari dua kata Indo- Nesos, maksudnya bagian atau wilayah jajahan dari Nesos atau Nederland yang  ada di Hindia, atau daerah Indo atau India yang menjadi milik Nesos atau Nederland (Belanda), dengan kata lain disebut HINDIA-BELANDA. Sedangkan Malaisya adalah daerah Hindia yang menjadi milik Inggris. Secara tidak langsung kita masih kehilangan Jati diri, secara tidak langsung kita masih mengakui sebagai jajahan Belanda. sehingga kita sering terombang-ambing oleh politik luar negri kita sendiri atau berbagai kebijkan politik dunia. Bagaimana dengan kata Nusantara, yang asli dari bahasa Induk Semang kita, bahkan mulai masa ratusan tahun silam sudah sering disebut-sebut oleh para nenek moyang atau leluhur kita. Kalau Muangthai berani berubah menjadi Thailand, Siam berani berubah menjadi Kamboja. Kenapa kata Indonesia tidak bisa ganti nama menjadi NUSANTARA ? demi Jatidiri Bangsa dan semoga akan membawa bangsa  & negara kita pada kejayaan dan kemakmuran.
Kami sadar, kalau tulisan ini masih jauh dari sempurna. Tapi demi kecintaan pada Leluhur, Tanah Air , Bangsa dan Negara, kami tulis pemikiran ini dan kami dirikan LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” untuk wadah perjuangan, walau kami tertatih-tatih dalam pendanaan, bahkan kami harus rela mengorbankan harta dan jiwaraga kami. Karena itu, kami mengajak semua saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, mari kita sadar diri, bangkit untuk meraih kembali Jati diri, demi anak cucu supaya bangsa kita tidak terus menerus TERPURUK BAGAI AYAM MATI DI LUMBUNG PADI. Mari berjuang dengan harta kita, tenaga kita, waktu kita dan pemikiran kita.Sedangkan kegiatan LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” sementara ini adalah : mengisi siaran di berbagai radio dan televise ( JTV, Batu TV, Malang TV, ATV, radio TT 77, radio Andalus, radio Kosmonita, radio Citra Protiga, radio Kanjuruhan, dll) maupun berbagai seminar, mendirikan dan membina benteng-benteng budaya di berbagai daerah ( saat ini sudah ada 18 cabang/korwil),  dan berbagai kegiatan social-budaya lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu disini. Kami terbuka untuk siapapun dan siap bekerja sama dengan lembaga apapun, yang selaras dengan visi & misi kami. Karena yang penting. MARI BERJUANG BERSAMA MERAIH KEMBALI JATI DIRI BANGSA. DIRI BANGSA,                    

Malang, 10 November 2009
LP3BJ &  ORMAS “Raket Prasaja”
Ketua Umum

 

KRT. Sutrimo. RB, SE. MM

Posted under: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">