PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN BUDAYA JAWA DI ERA GLOBALISASI UNTUK KEHARMONIAN DAN KESEJAHTERAAN

PENDAHULUAN

Kalimat di atas barang kali terasa aneh atau mustahil, apa mungkin ilmu pengetahuan budaya Jawa bisa diterapkan di era globalisasi atau modern sekarang ini, apa lagi membawa pada keharmonian dan kesejahteraan. Mungkinkah……..?
Mungkin atau tidak, sebagai orang Jawa kita haruslah memiliki rasa handharbeni serta hangrukebi budaya Jawa, sebagai warisan budaya atau sebagai warisan leluhur, maupun merupakan sebuah jati diri bangsa. Tapi rasanya tentu akan semakin mantab di hati. Setelah kita tahu  dan menyadari, kalau ilmu pengetahuan budaya Jawa bisa diterapkan di era globalisasi atau modern sekarang ini. Tentu hal ini membuktikan kalau budaya Jawa tidaklah kuno, mistik, atau irasional. Untuk lebih jelasnya mari kita kaji lebih lanjut. Karena sementara ini banyak diantara kita yang sudah meninggalkan budaya Jawa, entah karena pengaruh dari budaya barat yang dibungkus moderenisitas, atau pengaruh budaya timur yang dibungkus dengan agama.
Semua itu menjadikan budaya Jawa merana dan menangis disimpang jalan. Tetapi di sisi lain kita juga tidak munafik, kalau masih ada beberapa orang atau kelompok yang masih menekuni atau memperjuangkan budaya Jawa, tapi selama ini banyak yang baru bersifat kulitnya. Masih jarang yang mencoba mengkaji pada inti dari budaya Jawa, yaitu mengenai ilmu pengetauan budaya Jawa, dalam arti sebenarnya secara global dan komprehensif.

APA ITU BUDAYA JAWA ?

Budaya Jawa secara global dan komprehensif adalah meliputi :

  1. Bahasa dan Sastra.
  2. Adat dan Tradisi.
  3. Seni dan Budaya.
  4. Kasarasan atau Kesehatan.
  5. Filsafah dan Spiritual.

Karena keterbatasan waktu, tidak mungkin untuk kita kupas seluruhnya disini. Karena itu coba kita kupas beberapa hal saja. Sebagai contoh Ilmu pengetahuan budaya Jawa yang bisa diterapkan di era modern yang globalisasi, sehingga bisa diterapkan di berbagai negara dan lebih ironis lagi ilmu pengetahuan budaya Jawa ini telah diambil alih oleh bangsa lain.
Menurut catatan sudah ada beberapa ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam budaya Jawa yang sudah diambil orang, ada yang secara pengakuan karya intelektual (hak patent) sudah dimiliki orang (bangsa) lain, tetapi  minimal  sudah dikaji, diteliti dan akhirnya dimanfaatkan  orang (bangsa) lain. Ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut antara lain :

  • Tempe,  yang merupakan makanan khas dalam budaya Jawa, saat ini yang punya hak patent adalah Jepang. Padahal dalam pembuatan tempe juga ada  unsur  ilmu pengetahuan dan tehnologi, terutama tentang obat antibiotik. Karena itu tidak semua orang bisa membuat tempe dan dalam membuatnya tidak bisa asal – asalan.
  • Gamelan (Gong),  sebagai sarana penyembuhan. Surabaya Post, Minggu 9 Juli 2000. bagi orang awam karena kesederhanaannya  berfikir barangkali dianggapnya gamelan (gong) hanyalah seperti alat musik lain yang tidak mempunyai keistimewaan apa-apa. Malah ada sebagian orang yang menganggap haram, karena dianggapnya gamelan (Gong) merupakan budaya Hindhu yang bukan agamanya. Tapi bagi sebagian orang yang mau sedikit berfikir, ternyata Gamelan (Gong) adalah alat musik yang mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai oleh  alat musik lain.  Bernadette  Van de Maele (Belgia) telah mengkaji, mengembangkan dan memanfaatkan  medium suara & vibrasi  gamelan  (Gong) dalam proses penyembuhan di pusat  pengobatannya, Nos Deux B Belgia. Penelitiannya pertama di daerah Malang, Pasuruan dan Mojokerto, khususnya di Jolotundho.  Bila kita rasakan, kita nikmati dengan kejernihan hati, perasaan dan fikir, tidak ada unsur kebencian (negative thinking), akan kita rasakan :

- kalau kita sedang mendengarkan dan menikmati Gamelan (Gong) perlahan – lahan akan dibawanya kita pada suasana hati yang tentram dan damai. Terutama  gendhing – gendhing yang bernada lembut.
- Tetapi bila kita sedang mendengarkan dan menikmati musik lain hanya mampu membawa hati kita dalam suasana gembira.
Padahal diakui atau tidak, manusia hidup yang dicari adalah kedamaian, ketrentraman dan kebahagiaan.  Pernah terjadi beberapa waktu lalu di Semarang , karena didasari rasa cinta yang luar biasa terhadap gendhing-gendhing Jawa, khususnya gendhing yang Swarawatinya  Nyi Condro Lukito, ada seorang yang meninggalkan surat wasiat bila meninggal nanti untuk mengiringi jenasahnya mulai selama jenasah masih di rumah sampai menuju pemakaman,  diiringi dengan suara gendhing yang Swarawatinya Nyi Condro Lukito  dari pita kaset  tape recorder.

  • Kerokan. Pada suatu saat teman yang seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang bercerita kalau dirinya diminta mendampingi beberapa ahli medis dari Australia yang mengadakan penelitian mengenai kerokan sebagai suatu sarana penyembuhan. Sayangnya, sampai sekarang teman dosen tersebut tidak bercerita bagaimana nasib dari penelitian tersebut. Tetapi yang harus diakui oleh kita bahwa yang dibutuhkan  manusia adalah  O2 (Oksigen) bukan Carbondioksida (CO2) dalam kapasitas yang seimbang. Sementara fungsi metode kerokan adalah mengeluarkan Carbondioksida (CO2) dan secara otomatis akan bergantian dengan masuknya Oksigen (O2) kedalam tubuh manusia. Karena ketika manusia sedang sakit, suhu badan mengalami pembekuan, ketika itu suhu badan manusia berubah, pori – pori kulit mengerut  atau menyempit, sehinggga berbagai gas timbal atau Carbondioksida (CO2) tidak bisa keluar dari tubuh secara alami dalam bentuk keringat, kentut dan buang air besar. Sedangkan fungsi metode Kerokan adalah membuka pori – pori kulit agar Carbondioksida keluar dan terjadi sirkulasi dengan masuknya Oksigen (O2). Setelah Oksigen (O2) masuk mempengaruhi peredaran darah menjadi lancar, sehingga tubuh manusia menjadi segar kembali. Dalam hal ini kita jangan takut kalau dengan Kerokan pori – pori kulit menjadi lebar, karena kulit manusia cukup elastis. Ketika dalam kondisi sakit pori – pori kulit mengerut atau menyempit, sehingga tidak mampu mengeluarkan gas timbal atau Carbondioksida (CO2) dengan wajar dan baik. Dalam kondisi seperti ini manusia kadang kala sulit kentut (buang angin) dengan baik, maupun tidak bisa keluar keringat sehat tetapi yang keluar adalah keringat dingin. Sedangkan setelah Kerokan, setelah Carbondioksida (CO2) keluar berganti dengan masuknya Oksigen (O2), dan setelah peradaran darah lancar atau normal, perlahan –lahan pori – pori kulit akan berubah normal kembali layaknya manusia sehat. Perlu diketahui, ketika tubuh manusia sehat melakukan kerokan tidak akan berfungsi efektif dan tubuh manusia sehat tidak memerah kulitnya sebagai indikator kerokan. Selain itu, pemikiran kita jangan terlalu sederhana hanya dengan sekeping uang logam dan minyak tanah (balsem) ketika kita bicara soal kerokan. Tetapi yang perlu dikembangkan adalah metode kerokan untuk mengeluarkjan Carbondioksida (CO2) dan terjadi sirkulasi dengan masuknya Oksigen (O2) dalam tubuh, ini adalah ilmu pengetahuan sedangkan peralatan adalah merupakan tehnologi yang harus kita kembangkan atau kita sempurnakan seiring dengan kemajuan Zaman. Dalam budaya Jawa ilmu pengetahuan yang menjelaskan kalau pada Mikrokosmos dan Makrokosmos terdapat unsure  empat anasir alam yang harus selaras, seimbang dan harmoni sesuai kapasitas masing-masing sudah ada mulai ratusan bahkan ribuan tahun silam.  Empat anasir alam tersebut adalah : Udara, Air, Tanah dan Api, atau bisa juga disebut : Oksigen, Hidrogen, Nitrogen dan Carbon.
    Penelitian tentang kerokan yang dilakukan oleh tenaga medis dari Australia tersebut, terjadi pada kira-kira tahun 2004, sedangkan ada informasi terakhir (2008), kalau sekarang di berbagai Rumah Sakit terkemuka (termasuk di Jakarta dan Surabaya) sudah ada alat atau tehnologi kesehatan yang inti ilmu pengetahuannya sangat mirip dengan metode kerokan.
  • Suryo S Negara dalam bukunya “Stasiun Tugu” penerbit Buana Raya, Solo, 2000. menceritakan tentang Pamannya yang Indo dan tinggal di Rotterdam, Belanda. Ketika itu Oom yang ikut kursus alternatif Healing & Refleksologi, dalam kursus itu pembimbingnya orang Belanda, sedangkan Guru Besarnya orang Amerika. Kursus alternatif Healing & Refleksologi ini, selain membuka kursus juga membuka klinik pengobatan. Sedangkan pusatnya di Amerika Serikat dan cabang – cabangnya ada di banyak kota – kota besar di dunia. Bisa kita bayangkan, Guru Besar Ini pendapatannya banyak, kaya,  kerjanya keliling –kelilinng ketempat – tempat  kursusnya. Orangnya sederhana, dia hanya makan roti yang isinya sayuran, minumnya air putih (Ngrowot) sebelum peserta khusus tamat, dia memberikan pelajaran terakhir. Sesudah itu setiap peserta, secara sendiri – sendiri selama satu jam, di ruang khusus bertatap muka dengannya, untuk wawancara langsung dan wejangan. Sesudah itu tamatan peserta khusus, diizinkan membuka praktek sendiri. Pada saat wejangan terakhir, pembicaraan mengarah pada hal – hal kemanusiaan, penyembuhan dan hal – hal yang bersifat Spiritual. Penerangan lampu kamar diatur. Kadang – kadang terang, remang – remang, gelap, sorot lampu dan terang lagi, sesuai dengan alur pembicaraan. Ilmu puncak diberikan secara lesan (Tulis Tanpo Papan), pribadi dan rahasia. Konsentrasi penuh, mantra dilafalkan dan sekaligus harus hafal. Mantra itu berbahasa ………. JAWA.   Sang Guru  Besar tidak mau mendiskusikan soal mantra itu. Dari mana, dari siapa, sejak kapan dan kenapa berbahasa …………JAWA.  “Adanya begitu, pakailah untuk menolong sesama”.
  • Dalam sarasehan Yayasan (LP3BJ & ORMAS) “Raket Prasaja” pada tanggal 2 Mei 2005 di Karang Ploso, Malang. Disana hadir pula anggota Yayasan “Raket Prasaja” yang dinas di balai penelitian tanaman pangan  dan ada juga yang dinas menjadi PPL pertanian, serta masih lagi anggota yang berlatar belakang petani, pedagang, PNS, dll.  Dalam sarasehan tersebut ada kesimpulan dari sebuah kejadian tentang tanaman padi. Pada tahun 1970-an – 1980-an, pemakaian pupuk kimia-pabrikan setengah dipaksakan oleh pemerintah, karena petani enggan menggunakan pupuk kimia-pabrikan, kalaupun toh memakai itupun sifatnya hanya merupakan suplemen. Sehingga di masa itu 1 hektare sawah cukup membutuhkan 50 Kg pupuk kimia-pabrikan sedangkan produktifitasnya berkisar 8 – 12 ton per Hectare. Sehingga pada tahun 70-an – 80-an kita mengalami Swasenbada beras.  Sementara saat ini 1 hektare sawah membutuhkan 800-1250 Kg pupuk kimia-pabrikan, tetapi Cuma menghasilkan 4-6 Ton per Hektar dan sifatnya bukan lagi sebagai suplemen tapi merupakan kebutuhan pokok. Bila kita cermati disini ada semacam politik penggiringan pola pikir petani agar ada ketergantungan terhadap pupuk dan obat – obatan pertanian, sehingga bertambah tahun bertambah konsumsinya. Sehingga pupuk dan obat pertanian mudah dijadikan permainan oleh para kapitalis, inilah salah satu bentuk penjajahan social budaya.  Sedangkan produktifitasnya saat ini per Hectare sawah hanya menghasilkan 4 – 6 ton padi, sehingga akhir –akhir ini kita sering mengalami krisis pangan dan terpaksa harus import. Hal ini kalau di biarkan kasihan petani dan akan merusak pertanian, kita akan semakin sengsara dan akan terus memperkaya kapitalis. petani dan pertanian kita akan hancur, dan jalan keluarnya dari masalah tersebut adalah teknologi pertanian dalam budaya Jawa. Mulai pengelolaan tanah, pemilihan masa tanam, perlindungan hama, dll.  Semua memakai system dan teknologi pertanian dalam budaya Jawa, kita hanya sedikit mengembangkan dan menyelaraskan dengan situasi dan kondisi. Hal ini nampaknya juga sudah dikaji dan di kembangkan oleh sebuah lembaga di Amerika Serikat bernama Velunteers in Technical Asistence (VITA), dalam salah satu penelitiannya disebutkan “satu karung pupuk kimia dicampur pupuk organik (bersifat suplemen) lebih bagus dari pada 3 – 4 karung pupuk kimia (bersifat kebutuhan pokok) tanpa dicampur pupuk organik”. Fakta kalau ilmu pengetahuan budaya Jawa dalam bidang pertanian, khususnya padi telah diambil alih Negara lain, diperkuat oleh cerita kesaksian dari Soleh Adi Pramono seorang seniman dari Tumpang, Malang yang beristrikan Karen Elisabet dari Amerika Serikat. Ketika itu sedang berkunjung ke mertuanya di Amerika Serikat, disana menemukan berbagai beras Jawa seperti Raja Lele dan Mentik wangi, sedangkan jenis padi Jawa tersebut sulit kita temukan disini. Padahal padi Jawa itu kandungan karbohidrat, vitamin dan mineral sangat seimbang. Sedangkan padi yang kita konsumsi sekarang ini lebih banyak kandungan  karbohidrat, sedangkan kandungan vitamin dan mineralnya kurang. Sehingga mengakibatkan ketajaman berpikir dan daya ingat kurang, kekurangan vitamin B1, B6, B12 dan B complex menjadikan mudah capek, pegal linu, asam urat, dll.
  • Dan masih banyak lagi ilmu pengetahuan dan teknologi budaya Jawa yang kita terlantarkan akhirnya ditemukan serta dikembangkan orang (bangsa) lain. Sementara itu diakui atau tidak, beberapa  budaya yang kita kupas dari bangsa lain setelah diterapkan menyisakan berbagai permasalahan yang tidak kunjung selesai, seperti : demokrasi, emansipasi wanita, dll.

Sehingga kalau mengingat hal tersebut diatas, kita perlu waspada kalau ada Ilmuwan asing melakukan penelitian pada ilmu pengetahuan budaya kita, khususnya ilmu pengetahuan budaya Jawa, di Negara tercinta Indonesia ini. Karena penjajahan yang paling kejam adalah PENJAJAHAN BUDAYA  dan yang dijajah akan sulit bangkit, sebab kesadaran akan muncul sangat lamban. Mari kita sadar diri, sebab bangsa kita telah mengalami penjajahan budaya kurang lebih mulai abad 15.
Sebenarnya, apakah putra-putra bangsa tidak ada yang mampu jadi Ilmuwan, yg bisa mengupas atau melakukan Pengkajian & Penelitian pada Ilmu Pengetahuan Budaya Jawa, setelah itu kita daftarkan untuk mendapatkan Hak Patent. Karena alasan itulah, kita mencoba berjuang dengan mendirikan LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”.  Tetapi ternyata tantangan sangat berat, sedangkan dukungan sangat minim (kalau tidak bisa dikatakan tidak ada dukungan sama sekali). Masyarakat umum tidak peduli, bahkan ada kelompok-kelompok yang memusuhi. Pemerintah dukungannya sangat minim ( entah bersifat moril atau materiil), bahkan ada oknum-oknum pejabat yang memusuhi.  Media masa yang ada sangat bersifat komersil-kapitalis, sedangkan konsumsi public tidak mendukung, sehingga berbagai kegiatan Penelitian, Pengkajian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa kurang terdukung. Ilmuwan-Ilmuwan kita yang mencoba berjuang melakukan penelitian dan pengkajian budaya Jawa, sebenarnya cukup banyak, tetapi mereka mengalami nasib yang sama, bahkan ada yang lebih tragis. Kalau rasa Nasionalisme sudah luntur mereka akan tergoda untuk menjual pada Negara atau bangsa lain, seperti salah satunya penelitian tentang daun Keji Beling untuk obat kanker yang dibeli atau dibiayai oleh Malasyia. Dan semua itu bukan murni kesalahan Ilmuwan tersebut, karena penelitian tersebut sudah ditawarkan pada Pemerintah RI, tetapi tidak ada tanggapan yang positif. Karena Penguasa kita saat ini ( Eksecutif, Legislatif dan Yudikatif) banyak yang hanya bingung mencari kursi dan setelah dapat kursi, bingung bagaimana mempertahankan kursi.

HARMONI DAN SEJAHTERA

Dua kata, Harmoni dan Sejahtera harus saling terkait dan dikaitkan. Kalau tidak, tentu akan banyak ketimpangan-ketimpangan entah secara langsung atau tidak langsung akibat imbas dari suatu kejadian atau perbuatan manusia.
Pengertian harmoni disini adalah selaras dengan alam, yaitu antara Mikrokosmos dengan Makrokosmos, atau Jagat Cilik dengan Jagat Gede. Selarasnya empat anasir alam, yaitu : Udara, Air, Tanah dan Api ( Oksigen, Hidrogen, Nitrogen dan Carbon) yang ada pada Mikrokosmos dan Makrokosmos.
Sedangkan pengertian sejahtera disini adalah tercukupinya semua kebutuhan Janaloka, Indraloka dan Guruloka.
Karena orang yang punya banyak uang atau punya banyak harta belum tentu sejahtera, tetapi baru merasakan makmur. Orang yang tidak banyak uang atau miskin belum tentu tidak bisa merasakan sejahtera.
Kebutuhan Janaloka adalah kebutuhan yang bersifat materi atau pisik, antara lain : Pangan, Sandang, Papan dan Paran (Transportasi) atau kebutuhan : Wisma, Wanita, Turangga dan Curiga. Maupun berbagai hal kebutuhan manusia yang bersifat materi- duniawi.
Kebutuhan Indraloka, adalah kebutuhan yang bersifat rasa atau psikis. Antara lain : rasa aman, rasa senang, rasa damai, rasa tentram, rasa bahagia, dll. Termasuk disini rasa susah, benci, marah, dendam, tersinggung, dll.
Kebutuhan Guruloka adalah kebutuhan yang bersifat Spiritual, yaitu kedekatan kita dengan Tuhan Sang Maha Hidup. Karena tercukupinya kebutuhan Janaloka dan Indraloka akan menjadi hampa kalau kebutuhan Guruloka atau kebutuhan Spiritual tidak tercukupi, karena semua itu tidak terlepas dari hukum alam “susah – bungah iku langgeng lan urip iku langgeng. Tetapi kalau susah tidak langgeng (kekal) dan bungah juga tidak langgeng (kekal).
Tercukupinya semua kebutuhan Janaloka, Indraloka dan Guruloka akan menjadi lebih bermakna dan sempurna, bila berawal dari proses keharmonian atau keselarasan, antara Makrokosmos (Jagat Gede) dengan Mikrokosmos ( Jagat Cilik). Dalam hal ini adalah keselarasan empat anasir alam : Udara, Air, Tanah, dan Api (Oksigen, Hidrogen, Nitrogen, dan Carbon). Karena di Makrokosmos dan Mikrokosmos terdapat empat anasir alam tadi.
Kalau kita tidak harmoni atau selaras tentu, sejahtera akan sulit kita dapat, tetapi kita akan mendapat masalah baru dari ketidak selarasan tersebut.
HONG WILAHENG SEKAR BHAWANA LANGGENG.

Posted under: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">