PROGRAM JAVA NATIONS CARAKTERS BUILDING CENTER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
1.1.1 Kenapa Bangsa Kita Terpuruk.
Kalimat diatas sudah mengusik pikiran dan hati nurani kami mulai tahun 1995. Kehidupan rakyat terasa sengsara dan menderita bagai mencekik leher. Dalam berbagai lini kehidupan Sosial, Budaya, Ekonomi, Politik dan Keamanan, kita bagai kehilangan sebuah kemerdekaan yang hakiki. Setelah mengalami berbagai pertimbangan dan masukan, akhirnya tahun 1999 kami mendirikan Yayasan “Raket Prasaja”, karena perkembangan organisasi dan antusias masyarakat umum terhadap kegiatan kita cukup bagus, sehingga tahun 2007 beralih status menjadi LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”. Menurut kami TERPURUKNYA bangsa Indonesia karena kita telah kehilangan jati diri sejak abad 15. Kehilangan jati diri itu semakin parah pada akhir-akhir ini. Saat ini banyak orang suku Jawa yang tidak Jawa, banyak orang Indonesia yang tidak Indonesia, yang intinya kita telah kehilangan jati diri. Sebagian dari kita ada yang bersikap dan berkarakter kebarat-baratan dan ada sebagian dari kita yang bersikap dan berkarakter kearab-araban. Saat ini kita bahkan sudah lupa bagaimana sikap dan karakter orang Indonesia yang Indonesianis dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Kondisi seperti ini semakin diperparah oleh beberapa tayangan televisi. Sering kali kita melihat tayangan televise ( Film, Sinetron, dll), peran antagonis berciri-khas dari daerah (suku) tertentu. Sedangkan peran protagonis berciri-khas budaya dari suatu bangsa asal suatu agama tertentu. Sehingga semua ini berakibat pembunuhan karakter dan jati diri bangsa. Orang Jawa berdusta pada Jawanya, orang Batak berdusta pada Bataknya, orang Minang berdusta pada Minangnya, orang Dayak berdusta pada Dayaknya, dll.  Seharusnya kalau peran antagonis berciri khas (nama, pakaian, logat bicara, atribut, dll) daerah atau suku tertentu seharusnya peran protagonist juga harus berciri khas daerah atau suku tersebut. Begitu juga, kalau peran  protagonist berciri khas agama tertentu, seharusnya peran antagonis juga harus berciri khas agama tersebut. Karena semua agama pasti mengajarkan kebaikan dan kebenaran, tetapi prilaku umatnya yang sesat atau negative juga ada.
Apakah  kalau kita berkarakter dan memiliki jatidiri Jawa, Batak, Minang, Dayak, dll, akan mengancam persatuan dan kesatuan NKRI ? atau akan menjadi sesat menurut agama yang kita anut ? tentu kalau semua itu didasari dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, tentulah pasti akan menjadi suatu potensi yang besar untuk menjadikan kita menjadi  bangsa yang besar dengan segala kebesarannya. Pelangi di Cakrawala akan semakin indah dengan berwarna-warni, dan tidak akan jadi pelangi yang indah bila cuma satu warna. Sementara kalau soal sesat atau tidak tentu tergantung siapa dan dari sudut mana kita memandang.
Contoh : saat ini banyak kalangan yang alergi dengan kata “JAWA”, karena mereka berfikir seolah-olah Jawa itu hanya berkonotasi sukuisme atau aliran kepercayaan, mistik, klenik, kuno, bahkan ada yang menganggap sesat. Padahal “JAWA” bermakna sebuah karakter universal yang  berjati diri. Hal itu  terkandung dalam filosofi hurup Jawa. Semua hurup Jawa kalau “dipangku” mati, kecuali hurup JA – WA,  maksudnya ; siapapun kita, apapun kedudukan atau jabatan kita, apapun suku kita, apapun agama atau keyakinan kita, kalau dipangku masih “mati” (kita menjadi takabur dan lupa daratan) berarti kita belum “JAWA”, walaupun kita keturunan suku Jawa. Jawa barangkali bisa berarti “Mukmin” kalau di Arab, juga bisa berarti “Wisdom Carakter”  atau “Wisdom Careful”, jika di Eropa atau Amerika.
Ada sebuah cerita menarik menjelang pesta demokrasi Pemilu atau Pilkada (Gubernur, Bupati/Walikota) selalu ada saja peserta kontestan pesta demokrasi yang mencoba mendekati LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja. Tetapi kami selalu mengajukan syarat : Calon tersebut harus menjadi lebih “JAWA” maupun paham serta mengerti SPIRIT OF JAVA tidak cuma  sekedar suku Jawa. Sehingga dalam hal ini bisa suku Jawa, tapi bisa juga bukan suku Jawa (tidak harus suku Jawa). Karena arti JAWA yang sebenarnya bukanlah berarti sukuisme ataupun teritorial. karena Ironis sekali……?  Mau jadi apa Negeri ini kalau Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama tidak “JAWA” ?

1.1.2 Kilas Balik Sejarah Bangsa.
Dalam sejarah, bangsa kita pernah jadi pemimpin dunia. Kerajaan Kutai-Kudungga, Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijawa, Kahuripan, Kediri, Singhasari dan Majapahit. Kisah kejayaan para leluhur kita bukanlah pepesan kosong  tanpa bukti, saat ini sisa-sisa dan bukti kejayaaan itu masih ada dan berdiri megah di depan mata kita. Antara lain : Candi Prambanan, Candi Borobudur, dll. Kita harus sadar kalau candi Borobudur bukan budaya Budha, tetapi asli budaya Indonesia (Jawa), Cuma kebetulan orang yang membangun candi Borobudur adalah orang Indonesia (Jawa) yang beragama Budha. Kalau seandainya candi- candi tersebut budaya Budha atau Hindhu tentu banyak sekali candi-candi serupa di India, karena dari sanalah asal agama Budha dan Hindhu. Semua itu menunjukkan kunci kalau leluhur kita bisa jaya karena tetap memegang teguh jati diri bangsa, walau apapun keyakinan atau agama yang mereka anut atau yang mereka yakini. Mereka tidak serta-merta menjadi atau berprilaku Indiansi walau beragama Hindhu atau Budha.
Dalam agama Islam ada sebuah Hadits Rasululloh “Uthulubul Ilma Walau Bissyyn” artinya Tuntutlah atau carilah ilmu walau sampai Negeri “Ssyyn”. Selama ini negeri Ssyyn diartikan Negeri Cina. Setelah kita kaji Negeri Ssyyn tidak menutup kemungkinan adalah negri Syainlendra, dengan dasar :

  1. Masa kehidupan yang sama, antara Nabi Muhammad dengan Raja Syainlendra dari kerajaan Mataram kuno. yaitu abad  ke 7. karena sesuatu yang janggal kalau kita menasehati anak kita, supaya mencari ilmu pada orang yang sudah meninggal ratusan tahun silam atau pada orang yang belum lahir, secara logika pastilah kita akan merekomendasikan pada seseorang yang satu masa kehidupan.
  2. Pada masa itu negeri Syainlendra termasuk negeri yang maju dan terkemuka di dunia, dengan bukti berbagai peninggalannya.   Terutama candi Borobudur dan Prambanan.
  3. Letak yang cukup jauh dan menyeberang samudera (bila dibanding Cina, yang masih satu daratan dengan jazirah Arab), karena disini untuk symbol walau jauh dan sulit harus ditempuh dalam menuntut ilmu, karena Hadits ini terkait dengan Hadits lain yang memiliki arti kalau mencari ilmu itu wajib untuk Muslimin dan Muslimat.
  4. Pada abad 7 di negeri Cina (yang selama ini menjadi perkiraan Ulama) tidak ada sesuatu yang merupakan prestasi dunia, bahkan pada masa itu ada perang saudara antar Dinasty. Selain hal tersebut pada masa itu tidak ada satupun literature sejarah yang menyebut kata “CINA” , tetapi berbagai literature sejarah menyebut kata “TIONGKOK”.
  5. Borobudur ada persamaan makna dan filosofi dengan Al Qur’an. Puncak Borobudur ada relief dan stupa jumlahnya satu, makna filosofinya ada kesamaan dengan Al Qur’an  Surat Pertama. Begitu pula ketika kita turun ada relief dan Stupa jumlah 8 dengan Al Qur’an Surat 8, begitu seterusnya 16, 32, 64 dan 72.

Semua itu menunjukkan kalau bangsa kita pernah mengalami kejayaan, kenapa sekarang bangsa kita terpuruk….. ? semua itu karena akibat kita telah kehilangan jati diri, coba kita lihat negara-negara besar di dunia, adalah Negara- negara yang memegang teguh jati diri bangsanya, contoh : Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, Cina, dll.

1.1.3 Jati Diri
Al Qur’an Surat Al Hujuraat, Ayat 13 menjelaskan kalau Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling “kenal-mengenal”. Bahasa Al Qur’an adalah bahasa filosofi dan mengandung nilai-nilai falsafah yang tinggi. Makna “Untuk Saling Kenal-Mengenal” jangan diartikan secara dangkal dengan hanya sekedar kenalan nama belaka, tetapi makna “Saling Kenal-Mengenal” adalah pengenalan suatu jati diri dari suku bangsa-suku bangsa di Dunia. Kalau kita, karena beragama Katholik terus Romaansi, karena kita beragama Hindhu atau Budha terus Indiaansi, atau karena kita beragama Islam terus Arabansi atau Arabisasi. Menjadikan kita kehilangan Jati diri atau merubah Jati diri, apakah prilaku ini berarti “mengkhianati Al Qur’an ….? Wallohu allam. Tetapi saat ini banyak diantara kita yang berperilaku demikian.
Saat ini karena banyak diantara kita yang sudah kehilangan Jati diri, akhirnya banyak yang tega menjual dan mengekploitasi Tanah Air, Bangsa dan Negara kepada Bangsa dan Negara lain demi sesuap nasi yang dilahap sesaat. Semua itu dibungkus dengan warna Agama, Politik, Ekonomi, Pembangunan, dll.   Akhirnya Bangsa ini (TKW/TKI), Kekayaan Negara  (pertambangan, perkebunan, hutan), Kekayaan Intelektual, Sosial-Budaya, semua habis terjual, tergadaikan, atau hilang. Semua berlomba-lomba menjual Bangsa dan Negara. Dengan alasan modernitas atau dengan alasan Agama kita ekploitasi bangsa kita supaya setor devisa pada bangsa atau Negara lain, tidak hanya setiap tahun, tetapi setiap waktu, setiap saat. 
Mari kita renungkan, apakah kata “Indonesia” perlu diganti atau tidak ?  kalau kita telusuri, yang memberi nama “Indonesia” adalah A. Sebastian, seorang sarjana Eropa dalam tulisannya mengenai daerah yang menjadi jajahan Belanda, dari dua kata Indo- Nesos, maksudnya bagian atau wilayah jajahan dari Nesos atau Nederland yang  ada di Hindia, atau daerah Indo atau India yang menjadi milik Nesos atau Nederland (Belanda), dengan kata lain disebut HINDIA-BELANDA. Sedangkan Malaisya adalah daerah Hindia yang menjadi milik Inggris. Sedangkan dalam bahasa Yunani (menurut Plato),  Nesos berarti pulau atau kepulauan, Indonesia berarti Kepulauan India. Secara tidak langsung kita masih kehilangan Jati diri, secara tidak langsung kita masih mengakui sebagai jajahan Belanda. sehingga kita sering terombang-ambing oleh politik luar negeri kita sendiri atau berbagai kebijakan politik dunia. Bagaimana dengan kata Nusantara, yang asli dari bahasa Induk Semang kita, bahkan mulai masa ratusan tahun silam sudah sering disebut-sebut oleh para nenek moyang atau leluhur kita dengan kata NUSANTARA atau DWIPANTARA. Kalau Muangthai berani berubah menjadi Thailand, Siam berani berubah menjadi Kamboja. Kenapa kata Indonesia tidak bisa ganti nama menjadi NUSANTARA ? demi Jatidiri Bangsa dan semoga akan membawa bangsa  & negara kita pada kejayaan dan kemakmuran.
Kami sadar, kalau pemikiran dan perjuangan ini masih jauh dari sempurna. Tapi demi kecintaan pada Leluhur, Tanah Air , Bangsa dan Negara, kami tulis pemikiran ini dan kami dirikan LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” untuk wadah perjuangan, walau kami tertatih-tatih dalam pendanaan, bahkan kami harus rela mengorbankan harta dan jiwa-raga kami. Karena itu, kami mengajak semua saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, mari kita sadar diri, bangkit untuk meraih kembali Jati diri, demi anak cucu supaya bangsa kita tidak terus menerus TERPURUK BAGAI AYAM MATI DI LUMBUNG PADI. Mari berjuang dengan harta kita, tenaga kita, waktu kita dan pemikiran kita.

1.2  Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud Program ini :
Hai Manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Alloh maha mengetahui lagi maha mengenal. (QS. 49:13)
Al Quran adalah firman Alloh yang mengandung nilai-nilai filosofi tinggi, Sehingga maksud dari “supaya saling kenal-mengenal” tidaklah sekedar kenalan nama, tetapi meliputi saling kenal-mengenal “Jatidiri Bangsa atau Nations Caracters Building”.
Beberapa bangsa atau negara besar di dunia, yang memiliki dan memegang teguh Jatidiri bangsanya antara lain : Inggris, Cina, Jepang, Jerman, Dll. Bahkan demi menelusuri dan mencari Jatidiri bangsa, Jerman menghabiskan biaya yang sangat besar, sampai didapat kepastian Jatidiri bangsa, Jerman adalah bangsa Aria.
Sedangkan kalau suatu bangsa mengingkari Jati Diri Bangsanya, ternyata keterpurukan dan kehancuran yang terjadi. Bangsa atau Negara di Dunia ini yang mengingkari Jati Diri Bangsa dan mengalami keterpurukan antara lain :

  1. Pakistan sebenarnya Bangsa India tapi lebih cenderung Arabansi.
  2. Turki sebenarnya Bangsa Arab tapi lebih cenderung Eropaansi.
  3. Yugoslavia sebenarnya Bangsa Balkan terpecah : Bosnia cenderung Arabansi dan Serbia cenderung Eropaansi.
  4. Dll.

Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.
Karena itulah Bung Karno menyerukan Jatidiri pada Bangsa Indonesia dengan istilah Nations Carakters Building dan Trisakti :

  1. Berdaulat di bidang Politik.
  2. Berdikari di bidang Ekonomi.
  3. Berkepribadian di bidang Budaya.

Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai keterpurukan karena tidak memegang teguh Jatidiri bangsa (Nations Carakters Building). Jatidiri bangsa dan budaya bangsa adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan karena indikator “Jatidiri Bangsa adalah Budaya Bangsa”. Banyak orang Indonesia yang tidak Indonesia, banyak orang Jawa yang tidak Jawa.
Karena begitu pentingnya Jatidiri bangsa demi kejayaan dan kemakmuran bangsa dan negara, sehingga sangat perlu diadakannya berbagai kegiatan untuk menjelaskan dan menanamkan pemahaman “What is JAWA” yang benar dengan prinsip “Kasunyatan” (ilmiah, akademis) dan “Tinemu ing Nalar” (rasional), keseluruh lapisan masyarakat terutama kepada generasi muda.
Dalam berbagai kegiatan tersebut perlu dijelaskan What is JAWA yang meliputi :

  1. What is Spirit Of JAWA ?
  2. What is Javanese Cultur ?
  3. What is Javanologi ?

Konsep Trisakti dan Nations Carakters Building yang diserukan Bung Karno sangat erat hubungannya dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan kemerdekaan yang hakiki dari suatu bangsa.
Jati Diri Bangsa adalah sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan suatu bangsa dan negara. Sedangkan Pancasila merupakan suatu falsafah hidup Bangsa Indonesia yang menjadi dasar Negara.
Sehingga diharapkan dengan dilaksanakan berbagai kegiatan tersebut, merupakan salah satu alternatif untuk mempertemukan dan menyatukan tekad, semangat, nilai, serta tujuan perjuangan sebagai suatu bangsa yang besar. Setelah semua komponen bangsa terkotak-kotak oleh berbagai keanekaragaman agama, paham politik, strata sosial dan berbagai hal kepentingan lain yang berkutat ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apalagi di akui atau tidak, saat ini banyak diantara kita yang berprilaku Arabansi, Eropaansi, Cinaansi, Dll. Sedangkan bagaimana Jati Diri kita sebagai orang Indonesia (Nusantara) atau bagaimana Jati Diri kita sebagai orang Jawa, yang tidak sekedar suku Jawa, sangat sulit kita temukan dan masih menjadi tanda tanya? Semoga akan ditemukan jawaban dengan digelarnya berbagai kegiatan tersebut.

1.2.2  Tujuan Program ini :

  1. Mengingatkan serta menggali akar dan nilai-nilai Spirit of JAWA, maupun di cermati untuk dipakai sebagai konsep penyelarasan multidimensi yang dihadapi bangsa dan negara. Karena kejayaan Mataram Kuno, Singhasari, dan Majapahit karena adanya Spirit of JAWA. Sehingga pada waktu itu para leluhur kita walau beragama Hindu atau Budha, tetapi tetap memegang teguh Spirit of JAWA dan tidak Indiaansi.
  2. Menumbuhkembangkan rasa cinta dan rasa memiliki pada budaya bangsa yang bermuara pada rasa cinta tanah air. Sehingga akan terbentuknya Jatidiri Bangsa (Nations Charakters Building). Karena akhir-akhir ini banyak diantara kita yang tidak mengetahui apa itu Budaya Jawa (Javanese Culture). Budaya Jawa tidak hanya sekedar wayang atau aliran kepercayaan. Tetapi budaya Jawa meliputi : Bahasa & Sastra, Senibudaya, Adat & Tradisi, Kasarasan (pengobatan tradisional & alternatif) dan Falsafah & Spiritual.
  3. Membuka wawasan dan memberi pengertian pada seluruh komponen bangsa, tentang ilmu pengetahuan budaya Jawa (Javanologi) yang bermanfaat dan bisa membawa kejayaan serta kemakmuran. Karena selama ini kita terlena dan tidak peduli, sehingga saat ini banyak ilmu pengetahuan budaya Jawa yang telah diambil alih Bangsa atau Negara lain :
    1. Tempe hak patent ada pada Jepang. Sedangkan Tempe merupakan induk ilmu antibiotik.
    2. Gamelan untuk pengobatan penyakit akut dan kronis dimiliki Bernadette de maele dari Belgia. Untuk mengucapkan rasa terima kasih pada JAWA, beberapa waktu yang lalu disiarkan televisi nasional RCTI, Belgia membangun Taman bernuansa JAWA yang sangat luas dan indah.
    3. Berbagai jenis varietas padi Jawa dimiliki oleh beberapa negara lain (Amerika Serikat, Thailand, Jepang, Philipina). Padahal padi Jawa memiliki kandungan vitamin, mineral dan karbohidrat seimbang, sedangkan beras yang kita komsumsi saat ini lebih dominan kandungan karbohidrat. Sehingga akhir-akhir ini masyarakat kita banyak mengidap penyakit kencing manis, keropos tulang, asam urat dll. Karena dalam karbohidrat banyak kandungan zat gula, sementara vitamin untuk tulang (B1, B6, B12) sangat kurang.
    4. Dll.

Target yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut, agar seluruh lapisan masyarakat memahami makna dan hakekat nilai-nilai Jati Diri Bangsa (Nations Charakterss Building). Diharapkan pula mereka bisa mengerti serta paham akan :

  1. Spirit of Java (Jiwa Jawa).
  2. Javanese Cultur (Budaya Jawa).
  3. Javanologi (Ilmu pengetahuan budaya Jawa).

Sehingga kita bisa bersatu dan berjuang bersama, antar berbagai komponen bangsa dan pemimpin bangsa yang penuh rasa memiliki dan bertanggungjawab (handharbeni lan hangrungkepi) adanya Jatidiri bangsa menuju kejayaan dan kesejahteraan bersama.

 

BAB II
PROFIL LEMBAGA

2.1  Identitas Lembaga
Nama Lembaga                : LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”
Pembina                         : Drs. Ign. Soekarno. Msi.
Ketua Umum                   : KRT. Sutrimo. RB, SE., MM.
Status Kepengurusan       : Pengurus Pusat.
Alamat                           : Jl. Kecipir 36, Bumiayu, Malang. 65135
                                      Tlp. 0341-7442198. Hp. 085646586250
                                      Website : www.what-is-java.co.cc /
                                                    www.lp3bjormasraketprasaja.blogspot.com
DPC  yang sudah ada         : Kota Malang, Kab. Malang, Kota Batu, Kab. Bojonegoro.
DPC persiapan                 : Kab. Banyuwangi, Kab, Jember, Kab. Lumajang, Kab. Blitar, Kab. Lamongan, Dll.

2.2  Sejarah singkat LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”
LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Berawal dari Paguyuban atau Ikatan Keluarga Surakarta di Malang didirikan pada tanggal 28 April 1995. Setelah mengisi siaran di Radio TT 77 Malang mulai 7 Maret 1998, ternyata antusias masyarakat umum terhadap kegiatan maupun visi – misi kami sangat besar. Sehingga kami mengubah organisasi menjadi Yayasan “Raket Prasaja” dengan Akta Notaris Ambar Pawittri, SH. No.46, tanggal 14 Agustus 1999. Supaya organisasi tidak terkesan kedaerahan yang sempit dan selaras dengan perkembangan organisasi yang ada. Sehingga diharapkan organisasi lebih obyektif dan mengakomodasi semua pihak yang peduli terhadap Budaya Jawa walaupun mereka yang bukan suku Jawa maupun tidak tinggal di pulau Jawa.
Dalam perkembangannya banyak daerah-daerah yang juga antusias untuk mengembangkan visi – misi perjuangan Budaya Jawa. Sehingga mulai berdirinya Korwil – korwil disetiap kecamatan di Malang Raya (yang kedepannya Korwil berubah menjadi PAC). Karena  jenjang Organisasi dalam rencana kedepan :

  1. Dewan Pengurus Pusat (DPP) di Malang.
  2. Dewan Pengurus Daerah (DPD) di tingkat Propinsi (yang sudah ada Jawa Timur, sedang dalam persiapan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta & Bali).
  3. Dewan Pengurus Cabang (DPC) di tingkat Kota/Kabupaten.
  4. Pengurus Anak Cabang (PAC) tingkat Kecamatan.
  5. Pengurus Ranting (PR) tingkat Kelurahan/Desa.

Seiring hal tersebut akhirnya organisasi berubah menjadi LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” dengan Akta Notaris Jujung Handoko Limantoro, SH. No. 116 tanggal. 27 Agustus 2007.
LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA Singkatan dari Lembaga Pengkajian, Pelestarian  dan Pengembangan Budaya Jawa sekaligus Organisasi Masa yang bernama “RAKET PRASAJA”. Organisasi ini bukan Organisasi Keagamaan atau aliran kepercayaan, serta juga bukan Partai Politik atau Organisasi sayap dari partai Politik. Kalau ditinjau dari tujuannya atau visi & misinya sebenarnya bersifat Nasional dan Kebangsaan. Tetapi kenapa tetap memakai kata JA – WA, tentu banyak yang mengira bersifat sukuisme atau kedaerahan. Hal ini juga merupakan salah satu tugas kita untuk menjelaskan kepada khalayak umum apa makna dari kata JA – WA tersebut. Dalam berbagai literatur sejarah, nenek moyang kita bila ingin menyebut yang bersifat teritorial bukanlah memakai kata JA – WA, tetapi memakai istilah NUSANTARA. JA – WA merupakan sebuah konsep hidup dan kehidupan yang sangat Global. Sehingga konsep ini sebenarnya bisa dipakai oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Tetapi pada masa VOC (Sebelum Belanda) kata JA – WA di persempit maknanya menjadi kedaerahan untuk kepentingan Politik “Devide It Impera” atau politik adu domba, untuk memancing emosi Kedaerahan atau Sukuisme antar penghuni Pulau satu dengan pulau lainnya di Nusantara ini. Hal tersebut semakin parah dan bias dalam kehidupan sekarang ini, sehingga kita semua semakin kehilangan Jati Diri  dan Bangsa kita semakin terpuruk serta tertindas dalam berbagai lini kehidupan Sosial, Ekonomi, Budaya, politik, Hukum, Keamanan dan Spiritual (Sosekbudpolhukam & Spiritual). Karena keterpurukan itu sudah cukup lama bahkan berratus – ratus tahun sehingga kita semua tidak menyadari, tertidur lelap sulit untuk dibangunkan. Bahkan kita seperti “orang gila” karena begitu bangga memakai “baju” orang lain, yang belum tentu “baju” tersebut cocok dengan kondisi “badan” kita.
Didalam makna dan Filosofi huruf Jawa, semua huruf Jawa itu kalau “dipangku” mati (tidak bunyi) tetapi huruf JA & WA itu kalau “dipangku” tidak mati atau tetap hidup. Hal ini bermaksud, semua manusia didunia ini kalau “dipangku” : Kedudukan, Kehormatan, kecerdasan, Harta – Benda, Kecantikan/Ketampanan, dan lain – lain yang bersifat duniawi terus membuat manusia tersebut lupa daratan, sombong, arogan, berarti manusia tersebut belum JAWA. Ini baru sekelumit tentang konsep JAWA dan ini merupakan sebuah Jati Diri dari Bangsa kita yang mampu mengangkat harkat dan martabat, sehingga leluhur kita dulu pernah mengalami kejayaan dan mempu menguasai dunia, tetapi tidak bersifat penindasan pada Bangsa lain.
LP3BJ & ORMAS “RAKET PRASAJA” mengajak seluruh komponen Bangsa untuk berjuang bersama mengembalikan Jati diri bangsa ini (Spirit Of Jawa), serta mempelajari semua Budayanya (Javanese Culture) dan mengkaji seluruh ilmu pengetahuannya (Javanologi) untuk kejayaan dan kebesaran Bangsa kita maupun untuk Kesejahteraan umat manusia. Hal itu harus kita lakukan sebelum terlambat, karena sebagian ilmu pengetahuan kita (Javanologi) sudah dikaji dan dimiliki hak patentnya oleh Bangsa lain. Sementara karena keterbatasan cara berfikir kita, Javanologi kita maknai sebagai “spiritual culture” dan kita sering tanpa sadar bagai katak dalam tempurung. Sehingga semakin kita dicibir oleh pihak yang tidak menyukai Budaya Jawa. Kalau kita renungkan ada “strategi politik” dari bangsa atau pihak lain, disatu sisi bangsa kita dipengaruhi dan digiring pada kondisi yang semakin jauh dari Budaya leluhur dengan dalih Agama atau tehnologi atau modernisitas, tetapi disisi lain banyak pihak atau Bangsa lain yang berlomba mempelajari dan mengambil alih Budaya atau ilmu pengetahuan leluhur kita.
Kalau melihat hal ini, alangkah baiknya dan sangat diharapkan Pemerintah menjadikan kegiatan LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA sebagai salah satu kegiatan resmi, kalau perlu membentuk lembaga resmi semacam ini. LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA sebagai “pilot projec”. Minimal Pemerintah memberi dukungan dan memfasilitasi kegiatan LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA, maupun diusahakan Organisasi ini berdiri diseluruh wilayah Republik Indonesia. Sehingga kesadaran mengenai Jati Diri Bangsa atau Nations Carakter Building semakin menyentuh pada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari lapisan bawah sampai unsur pimpinan. Karena dalam Undang – Undang Dasar 1945, bela Negara merupakan kewajiban seluruh warga negara, sehingga hal ini juga merupakan kewajiban seluruh warga Negara Indonesia, tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah semata.

2.3  Visi & Misi LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”
Berdasarkan komitmen yang kuat dan cita-cita luhur serta mulia LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” menetapkan visi :
“Memperjuangkan, Mengukuhkan dan Mengembalikan Jati Diri Bangsa untuk menuju Indonesia yang Mandiri, Bermartabat, Makmur dan Sejahtera.”
Adapun misi yang dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut adalah :

  1. Menyelenggarakan sarasehan, seminar dan sejenisnya mengenai Java Nations Carakter Building (Spirit Of Java, Javanese Culture & Javanologi) keberbagai lapisan masyarakat.
  2. Melaksanakan berbagai kegiatan pengkajian, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan Budaya Jawa.
  3. Menumbuhkembangkan kepedulian masyarakat umum, khususnya generasi muda dalam pelestarian Budaya Daerah, untuk menguatkan jati diri Bangsa.

Sedankan maksud dan tujuan umum yang diharapkan adalah :

  1. LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja “ didirikan dengan maksud membina dan meningkatkan rasa persaudaraan, kekeluargaan, kebersamaan dan rasa kesetiakawanan sosial dilingkungan anggota LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja ” khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan tujuan untuk dapat lebih meningkatkan pengabdian dan partisipasi terhadap upaya-upaya pembangunan suatu kehidupan yang tentram dan sejahtera maupun dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Bangsa dan Negara.
  2. Ikut membangun dan meningkatkan kepribadian Bangsa.
  3. Berpartisipasi aktif meningkatkan kualitas dan pelestarian serta pengembangan budaya Jawa dalam arti luas.
  4. Mengamalkan budaya jawa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilandasi Pancasila dan UUD ’45.
  5. Ikut memajukan ilmu pengetahuan (kawruh) budaya Jawa dalam arti luas untuk kesejahteraan, kemajuan dan mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia serta alam semesta.
  6. Meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.

2.4  Program kerja :

    1. Siaran ilmu pengetahuan budaya Jawa di radio Kanjuruhan FM, setiap hari Kamis pukul 21:00 – 22:00 Wib & Sabtu pukul 19:00 – 20:00 Wib.
    2. Siaran ilmu pengetahuan budaya Jawa di radio Citra Malang FM, setiap hari Senin pukul 19:00 – 20:00 Wib.
    3. Siaran ilmu pengetahuan budaya Jawa diberbagai radio lain (Radio TT 77, Radio Andalus, RRI, Radio Cakra buana,  dll)  dan televisi lokal (Malang TV, Batu TV, ATV, JTV), diharapkan suatu saat bisa siaran ditingkat nasional.
    4. Mencermati berbagai liputan media cetak dan elektronik lokal maupun nasional yang terkait dengan budaya Jawa.
    5. Pembinaan dan konsolidasi Organisasi ke berbagai DPC dan korwil (PAC) yang sudah ada.
    6. Mengembangkan dan mendirikan kepengurusan cabang di berbagai daerah di Indonesia dan Manca Negara.
    7. Mengadakan sarasehan dan seminar ke berbagai daerah, dalam rangka sosialisasi apa itu Jawa (Spirit Of Java, Javanese Culture & Javanologi).
    8. Memberi penyuluhan dan pembinaan tentang ilmu pengetahuan budaya Jawa pada masarakat umum. Meliputi : bahasa & sastra, seni & budaya, adat & tradisi, pengobatan & kesehatan dan falsafah & spiritual.
    9. Memberi penyuluhan tentang pertanian dalam budaya Jawa.(khususnya tanaman padi dan singkong yang pernah kita kaji).
    10. Memberikan penyuluhan tentang pengobatan tradisional Jawa (resep – ressep obat atau jamu tradisional).
    11. Memberi penyuluhan dan pembinaan ilmu pengetahuan budaya Jawa pada generasi muda bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) mauapun instansi / lembaga lainnya. 
    12. Mengadakan berbagai kajian dan penelitian yang terkait dengan ilmu pengetahuan budaya Jawa (Bahasa & Sastra, Adat & Tradisi, Seni Budaya, Pengobatan, Falsafah & Spiritual).
    13. Menyebar luaskan hasil kajian dan penelitian yang bermanfaat ke masyarakat umum dan pemerintah sebagai bentuk pengabdian pada bangsa dan negara.
    14. Mencetak buku AD / ART.
    15. Mengadakan peringatan tahun baru Jawa setiap tahunnya.
    16. Mencetak kalender Jawa setiap tahunnya.
    17. Mengadakan berbagai kegiatan budaya Jawa lainnya (contoh: 1 Agustus 2009 mengadakan Seminar Nasional “What Is Java” di Balaikota Malang).
    18. Pembangunan Sanggar Budaya.
    19. Pembangunan Gedung Sekertariatan.
    20. Pengadaan peralatan Seni Budaya.
    21. Dll.

     

    BAB III
    RENCANA DAN ANGGARAN KEGIATAN PROGRAM PENGKAJIAN, PELESTARIAN & PENGEMBANGAN BUDAYA JAWA, LP3BJ & ORMAS “RAKET PRASAJA” PUSAT MALANG.

    3.1  Rencana Kegiatan
    Nama Kegiatan          : Program Pengkajian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa.
    Waktu Kegiatan         : 2010-2011
    Pelaksana                  : LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Pusat Malang.
    Tim Pengarah            : 1. Drs. Ign. Soekarno, Msi.
                                     2. Drs. Ec. Heldhy Lukistiono, SE., Msi.
                                     3. Drs. Pudjo Joewono, MM.
    Tim Pelaksana            : Ketua                : KRT. Sutrimo. RB, SE., MM.
                                     Sekertaris          : Khoirul Anam.
                                     Wakil Sekertaris  : Sugeng Hariyono, Spd.
                                     Bendahara         : Siti Qosidah.
    Pagu Anggaran          : Rp. 6.054.500.000
    Trbilang                    : Enam Milyard Lima Puluh Empat Juta Lima Ratus Ribu Rupiah.

     

    3.2  Rencana Anggaran dan Belanja
    Adapun Rencana anggaran dan belanja untuk  Program Pengkajian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Pusat Malang secara ringkas sebagai berikut :
    REKAPITULASI BAGIAN

    1. INVESTASI                                                            2.000.000.000
    2. Prasarana Ruang Kantor                                     306.000.000
    3. Prasarana Perpustakaan                                     337.500.000
    4. Pembinaan dan Sosialisasi                             1.636.000.000
    5. PENGADAAN PRASARANA LAIN                      1.775.000.000

    JUMLAH KESELURUHAN                                  6.054.500.000
    Terbilang : Enam Milyard Lima Puluh Empat Juta Lima Ratus Ribu Rupiah.

    Rincian anggaran dan belanja Program Pengkajian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Pusat Malang, secara lengkap dapat dilihat di lampiran 1.

    BAB IV
    PENUTUP

    Teriring doa yang kami panjatkan kehadhirat Tuhan Yang Maha Esa, mudah-mudahan usaha yang kami lakukan mendapat perkenan-Nya. Walaupun penyusunan Proposal ini masih banyak kekurangannya, baik secara sistematika penulisan maupun bahasa yang kami gunakan.
    Kami Berharap mudah-mudahan tidak merubah maksud dan tujuan yang terkandung dalam proposal ini. Kami mohon maaf telah menyita waktu dari pejabat yang berwenang untuk memeriksa dan menelaah proposal ini. Semoga waktu yang terluangkan untuk membaca dan mengkaji Proposal ini menjadi amal baik Bapak/Ibu.
    Karena tujuan Perjuangan Jawa (Nations Carakter Building) ini sangat luhur serta untuk pengabdian pada Bangsa dan Negara, demi anak-cucu kita. Kami berharap semua pihak tersentuh hatinya untuk turut memikirkan dan mendukung perjuangan ini. Karena tujuan perjuangan ini sebenarnya adalah tanggung jawab kita semua. Sehubungan hal tersebut kami berharap kepedulian semua pihak agar beban perjuangan ini bisa teratasi.
    Kami sampaikan terima kasih atas di terimanya permohonan ini, kami tentunya siap memberikan pertanggung jawaban yang disyaratkan sebagai bentuk kewajiban dan tanggung jawab kami kepada lembaga yang Bapak/Ibu pimpin, bila proposal ini berkenan di setujui.
    Demikian permohonan ini kami sajikan dalam sebuah Proposal untuk tujuan Pengkajian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa yang menjadi Program LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Pusat Malang. Atas perhatian dan bantuannya diucapkan terima kasih serta mohon maaf atas kesalahan atau kekeliruan penyampaian dalam Proposal ini.
    Malang, 3 Mei 2010
    LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”
    Ketua Umum,

     

    KRT. Sutrimo RB, SE., MM.

    Posted under: Kegiatan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">