PROPOSAL KALENDER JAWA

PENDAHULUAN

Kalender ada 2 macam:

I. Kalender Agama/Theologie, Contoh :

  1. Kalender Masehi merupakan  kalender agama Kristen/Katolik, terkait dengan  sejarah Isa Almasih. Kalender ini memakai pedoman  peredaran Matahari (Solar), tahun barunya setiap tanggal 1 Januari dan tahun depan 1 Januari 2012 Masehi. Sekarang kalender ini menjadi kalender dunia.
  2. Kalender Hijriah adalah kalender agama Islam, kalender ini terkait dengan sejarah hijrahnya (pindahnya) Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah, kalender ini memakai pedoman  Bulan (Lunar), tahun barunya setiap 1 Muharram dan tahun depan 1 Muharram 1433 Hijriah bertepatan tanggal 27 Nopember 2010 M.
  3. Kalender Caka (Hindhu) merupakan kalender agama Hindhu. Diciptakan atau diperkenalkan  pertama kali  oleh Maharaja Kaneshaka dari suku Caka, India Utara bertepatan  tanggal  21 Maret 78 M. Kalender ini memakai pedoman  peredaran Matahari (Solar), tahun barunya disebut Tahun Baru Nyepi. Awalnya kalender ini adalah kalender budaya suku Caka, tetapi sekarang menjadi kalender agama Hindhu. Untuk tahun ini Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932 bertepatan tanggal 5 Maret 2011 M.

II. Kalender Budaya, Contoh :

  1. Kalender Cina (Imlek) merupakan kalender budaya dari bangsa Cina, karena kalender ini merupakan kalender budaya yang tidak terkait dengan agama tertentu, sehingga semua saudara-saudara kita orang Cina  di seluruh dunia  merayakan Tahun Baru Imlek 2562 ( 3 Februari 2011 M), apapun agama mereka. Serta  merupakan hal wajar bila mereka  merayakan Tahun Baru Imlek di tempat ibadah  agamanya masing-masing. Diberitakan di media  kalau orang-orang Cina  di Jogjakarta yang beragama  Islam merayakan  Tahun Baru Imlek di Masjid, yang beragama Kristen/Katholik di Gereja.
  2. Kalender Jawa: adalah merupakan kalender budaya Jawa yang tidak terkait dengan agama atau aliran kepercayaan apapun, sehingga semua pihak yang terkait dengan Jawa atau yang ingin menjadi JAWA di seluruh dunia dan siapapun kita yang tinggal di pulau (tanah) Jawa wajib merayakan Tahun Baru Jawa yang disebut Suroan, untuk tahun depan 1 Suro 1945 (2923) Jawa bertepatan tanggal 28 Nopember 2011 M.

Semenjak diadakannya alkuturasi Kalender Jawa dengan Kalender Hijriah dan Kalender Caka Hindhu oleh Sultan Agung Hanyokro Kusumo di Kerajaan Mataram pada Tahun 1554 Jawa/ 1043 H/ 1633 M/ 1555 Caka. Menjadikan setiap tahun baru Jawa dan tahun baru Hijriah berhimpitan/ selisih 1 hari. Kemarin sewaktu Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang, banyak informasi kalau saudara-saudara kita bangsa Jawa yang di luar  pulau (tanah) Jawa ternyata juga  merayakan Tahun Baru Suro setiap tahunnya. Baik yang di dalam negeri Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Papua, dll), maupun yang di luar negeri. Di beritakan di Jawa Pos Group, Bupati Timika yang asli orang Papua turut merayakan Tahun Baru Suro, sedangkan di luar negeri seperti Suriname dan New Kaledonia juga turut merayakan tahun baru Suro. Perlu kita ketahui bersama kalau Bahasa Jawa merupakan Bahasa terbesar nomer 11 di Dunia, sedangkan Bahasa Indonesia Bahasa terbesar nomer 66 di Dunia (dalam penelitian UNESCO). Di Malang Raya banyak orang non suku Jawa yang kebetulan bergabung menjadi anggota LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” juga ikut merayakan Suroan setiap tahun. Pada tahun 1944/2922 JAWA ini LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”  mengadakan Pahargyan Manghayu Bagya Warsa Enggal Suro 1944 (2922) Jawa diadakan di Sanggar Budaya LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” Jl. Kecipir 36 Bumi Ayu, Malang, pada tanggal 1 Januari 2011 Masehi atau tanggal 24 Suro 1944 (2922) Jawa.

SEJARAH KALENDER JAWA

Kalender Jawa dalam sejarahnya selalu  terkait dengan huruf Jawa. Kalau Kalender Jawa berdasarkan “Sangkan Dumadining Bawana”, sedangkan Huruf Jawa berdasarkan “ Sangkan Paraning Dumadi”. Pertama kali diciptakan  atau diperkenalkan oleh Mpu Hubayun pada tahun 911 SM (Sebelum Masehi). Pada tahun 50 SM (Sebelum Masehi) Prabu Sri Maha Punggung I atau Ki Ajar Padang I mengadakan perubahan pada Huruf dan sastra Jawa.
Bertepatan tanggal  21 Juni 77 M oleh Prabu Ajisaka diadakan perubahan, dalam budaya Jawa ketika menghitung selalu dimulai dari angka nol (Das), sehingga Kalender Jawa kembali bermulai  pada tanggal 1 Badrawarna (Suro) tahun Sri Harsa, Windu Kuntara adalah taggal 1, Bulan 1, Tahun 1, Windu 1 tepat pada hari Radite Kasih (Minggu Kliwon) ditetapkan permulaan  perhitungan  Kalender jawa, bertepatan tanggal 21 Juni 78 Masehi. Kalender Jawa memakai pedoman peredaran Matahari  (Solar).
Prabu Ajisaka adalah asli orang Jawa bukan dari India, serta memiliki banyak  nama atau gelar, yaitu: Prabu Jaka Sangkala, Prabu Widayaka, Prabu Sindula, Prabu Sri Maha Punggung III, Ki Ajar Pandang III. Salah satu petilasannya ada di Mrapen (Api Abadi) daerah Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Bukti kalau Ajisaka asli Jawa adalah :

  1. Pusaka yang diperebutkan oleh para Pembantunya (Punakawan) adalah Keris, sedangkan sampai detik ini diakui oleh seluruh dunia kalau Keris adalah asli budaya Jawa, kalau seandainya Ajisaka dari India tentunya di India banyak ditemukan pusaka Keris.
  2. Para Pembantu (Punakawan) Ajisaka yang terkenal ada empat (4) orang bukan dua (2) orang dan  dari nama-namanya asli bahasa Jawa Kuna atau Kawi. Nama-nama Pembantu (Punakawan) Ajisaka adalah :
  3. - Dura : bacanya tetap pakai vokal “A”, karena kalau dibaca “ro” pakai vocal “O” artinya akan berubah jauh dan tidak ada keterkaitan (relevan). Sedangkan dalam berbagai catatan sejarah bahasa dan sastra Jawa mulai banyak menggunakan vokal “O” pada masa sesudah abad 14. Karena kalau “Dura” (ra dibaca dengan vokal “A”) bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam  (anasir air) “, tetapi kalau “Dura” (ra dibaca dengan vokal “O”) berarti “bohong”. – Sambadha : kalau dibaca dengan vocal “A” bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam (anasir api)”, tetapi kalau dibaca dengan vokal “O”  berarti “mampu”. – Duga : kalau dibaca dengan vokal “A”  bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam (anasir tanah)” , tetapi kalau dibaca dengan vokal “O” berarti “pangati-ati” (dugo-kiro) diartikan dalam bahasa Indonesia secara bebas berarti “peringatan & Pengarahan”. – Prayuga : kalau dibaca dengan vokal “A” bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam (anasir angin)” , tetapi kalau dibaca “prayugo” berarti “sebaiknya”.

  4. Semua empat anasir tersebut adalah anasir alam yang ada pada alam semesta atau Jagad Gedhe atau Bhawana Ageng atau Makrokosmos, serta terdapat juga pada tubuh manusia atau Jagad Cilik atau Bhawana Alit atau Mikrokosmos.
  5. Sedang nama Ajisaka juga asli bahasa Jawa Kuna (Aji-Saka) yang berarti seorang Raja yang mengerti dan mempunyai kemampuan spiritual atau Raja-Pinandhita atau Pemimpin Spiritual. 

Waktu jaman Kerajaan Mataram di pimpin oleh Sultan Agung  Hanyakra Kusuma, pada waktu itu ada ancaman pengaruh bangsa asing  yang sudah menguasai Sunda Kelapa (Batavia). Sehingga terpikir bagaimana membuat rakyatnya rukun dan bersatu yaitu dengan cara meng-Akulturasi-kan tiga ungsur  budaya yang ada  pada waktu itu (Jawa, Hindhu, Islam), disimboliskan pada bentuk perubahan Kalender Jawa. Karena berbeda pedoman peredaran  yaitu Matahari (Solar) dan Bulan (Lunar) sehingga walaupun disatukan  (khususnya Kalender Jawa dan Kalender Hijriah) dengan cara dihilangkannya  satu masa Kalender Jawa, tetapi walau begitu tetap saja berselisih satu hari. Karena hal ini pula akhirnya muncullah istilah tahun ABOGE (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rebo Wage) dan tahun ASAPON (tahun Alip, tgl. 1 Suro jatuh hari Seloso Pon).Perubahan ini  bertepatan tanggal  1 Muharram 1043 H = 29 Besar 1554 Jawa =  8 Juli 1633 M.
Sekarang masa Sultan Agung sudah lama berselang, banyak kalangan yang  berpendapat kalau kalender Jawa sudah waktunya perlu diadakan perubahan. Sementara itu, mulai masa Sultan Agung sampai sekarang, belum ada yang berani melakukan perubahan atau penyesuaian. Ada yang berpendapat kalau kalender Jawa seharusnya setiap 120 tahun sekali harus diadakan penyesuaian. Ada yang berpendapat, kalau sekarang dekade perhitungan tahun ABOGE sudah berakhir dan sudah seharusnya diganti decade perhitungan tahun ASOPON. Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, lebih baik demi kembalinya sebuah Jati Diri bangsa Jawa khususnya, bangsa Indonesia pada umumnya (bangsa yang besar adalah bangsa yang punya JATI DIRI), kita kembali pada Kalender Jawa asli yang diciptakan oleh Mpu Hubayun (911 SM). Dengan pertimbangan :

  1. Kalender Jawa Mpu Hubayun adalah Kalender Jawa asli dan yang pertama atau tertua (911 SM).
  2. Kalender yang penuh dengan nilai-nilai falsafah tinggi, yang menandakan bangsa kita adalah bangsa yang besar. Sehingga kalau bisa kalender Jawa diangkat menjadi Kalender Nasional bangsa Indonesia. Karena tidak semua bangsa di dunia memiliki kalender sendiri.
  3. Kalender yang mengarah pada keselarasan atau keharmonian alam semesta,   karena berdasarkan proses awal terjadinya alam semesta (Sangkan Dumadining Bhawana).
  4. Kalender Jawa harus berdiri diatas semua golongan (agama,suku). Karena makna kata JAWA itu sendiri tidak bermakna sukuisme. Sedangkan Kalender Jawa Sultan Agung, selain adanya polemik dengan berbagai pendapat yang berbeda juga terlalu banyak mengadopsi pengaruh Islam. Sehingga orang yang tidak memeluk agama Islam, muncul perasaan tidak merasa ikut memiliki. Sedangkan umat Islam sendiri juga banyak yang tidak peduli karena merasa sudah memiliki kalender sendiri yaitu kalender Hijriyah. Semua itu berakibat hilangnya nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, guyub-rukun, yang menjadi cirri-khas bangsa kita. Akibatnya sekarang ini banyak orang yang sudah tidak mengenal lagi atau sudah tidak peduli pada Kalender Jawa dan Budaya Jawa.

 
BENTUK KEGIATAN

Untuk tahun depan rencana LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja” karena sesuatu hal tidak akan mengadakan kegiatan yang bersifat mobilisasi massa seperti tahun-tahun sebelumnya (tetapi akan tetap melaksanakan peringatan Suroan). Sedangkan tahun depan (1945/2923 Jawa) akan difokuskan pada pembuatan dan memasyarakatkan Kalender Jawa, sangat diharapkan kita bisa mencetak Kalender Jawa minimal 3000 eksemplar (kemarin kita dibantu Pemprov Jatim & Pemkot Malang). Kita berharap kegiatan ini bisa menjadi pilot project untuk tingkat nasional, dan nantinya Kalender Jawa bisa menjadi Kalender Nasional Bangsa Indonesia. Karena seperti Kalender – Kelender yang lain awalnya juga hanya merupakan Kalender suku tertentu (Kalender Masehi = Suku Yahudi, Kalender Caka Hindhu = Suku Caka, dll). Kalau kita semua menghendaki supaya tahun baru Jawa tidak berhimpitan dengan tahun baru Hijriah, tentu Presiden Republik Indonesia atau minimal Raja Jawa yang masih Eksis (Kasunanan dan Kasultanan) membuat keputusan Kembalinya Kalender Jawa yang asli, sekarang berangka tahun 2922 Jawa, untuk menggugurkan atau membatalkan dari keputusan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada waktu itu. Kalau nanti sudah ada surat keputusan tersebut, tahun baru JAWA akan bertepatan setiap 21 Juni dalam kalender Masehi (Kalender Empu Hubayun).

MAKSUD DAN TUJUAN

  1. Mengingatkan serta menggali akar dan nilai-nilai Spirit of JAWA, maupun di cermati untuk dipakai sebagai konsep penyelarasan multidimensi yang dihadapi bangsa dan negara. Karena kejayaan Mataram Kuno, Singhasari, dan Majapahit karena adanya Spirit of JAWA. Sehingga pada waktu itu para leluhur kita walau beragama Hindu atau Budha, tetapi tetap memegang teguh Spirit of JAWA dan tidak Indiaansi.
  2. Menumbuhkembangkan rasa cinta dan rasa memiliki pada budaya bangsa yang bermuara pada rasa cinta tanah air. Sehingga akan terbentuknya Jatidiri Bangsa (Nations Charakters Building). Karena akhir-akhir ini banyak diantara kita yang tidak mengetahui apa itu Budaya Jawa (Javanese Culture). Budaya Jawa tidak hanya sekedar wayang atau aliran kepercayaan. Tetapi budaya Jawa meliputi : Bahasa & Sastra, Senibudaya, Adat & Tradisi, Kasarasan (pengobatan tradisional & alternatif) dan Falsafah & Spiritual.
  3. Membuka wawasan dan memberi pengertian pada seluruh komponen bangsa, tentang ilmu pengetahuan budaya Jawa (Javanologi) yang bermanfaat dan bisa membawa kejayaan serta kemakmuran. Karena selama ini kita terlena dan tidak peduli, sehingga saat ini banyak ilmu pengetahuan budaya Jawa yang telah diambil alih Bangsa atau Negara lain. Khususnya dalam kegiatan ini adalah mengenai Kalender Jawa.

 

RENCANA ANGGARAN BIAYA

Rp.16.000.000,-) tahun ini rencana cetak 3000 eksemplar.
Rp.16.000.000 x 3                                                                                                Rp. 48.000.000,-

  1. Biaya Sekretariatan dan Proses Pembuatan Rancangan Kalender                                Rp.   5.000.000,-
  2. Biaya cetak Kalender ( tahun kemarin per 1000 eksemplar
  3. Biaya Penyebaran Rp.3000,- / eksemplar.                                                                Rp.   9.000.000,-
  4. Biaya tak terduga 10 %.                                                                                        Rp.   6.200.000,-

Jumlah                                                                                                              Rp. 68.200.000,-

Terbilang : Enam Puluh Delapan Juta Dua Ratus Ribu Rupiah.
NB : Semakin banyak sumbangan yang kami terima, semakin banyak pula kalender Jawa yang akan kami cetak dan sebarkan.

TAMBAHAN

Bagi para Donatur, Sponsor maupun Pemerintah Daerah yang menghendaki foto-foto kegiatannya terpampang di Kalender Jawa sebagai sarana promosi, diharapkan :

    1. Memberi Sumbangan senilai minimal per 500 atau 1000 eksemplar atau kelipatannya, ditambah biaya sekretariatan dan pembuatan rancangan kalender.
    2. Maksimal 12 Selo 1944 / 2922 Jawa ( 11 September 2011 M ) sudah menyerahkan foto-foto dan sumbangan yang dimaksud. Karena kita rencanakan satu bulan (Oktober) sebelum tahun baru 1 Suro 1945/2923 Jawa atau tanggal 28 Nopember 2011 kalender sudah beredar.
    3. Ada pembicaraan lebih lanjut dengan DPP LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”.
    4. Bilamana sumbangan tidak memenuhi kriteria poin 1, dianggap sebagai sumbangan biasa.

     

    PENUTUP

    Karena tujuan Perjuangan Jawa (Nations Carakter Building), dalam hal ini rencana pembuatan dan memasyarakatkan kalender Jawa ini sangat luhur serta untuk pengabdian pada Bangsa dan Negara, demi anak-cucu kita. Kami berharap semua pihak tersentuh hatinya untuk turut memikirkan dan mendukung perjuangan ini. Karena tujuan perjuangan ini sebenarnya adalah tanggung jawab kita semua. Sehubungan hal tersebut kami berharap kepedulian semua pihak agar beban perjuangan ini bisa secepatnya teratasi.
    Bagi semua pihak yang berkenan membantu bisa menghubungi sekertariat atau langsung transfer ke BRI no.rek : 0344-01-014256-50-2.  a.n :Sutrimo atau Bank Jatim no. Rek : 0047285798 a.n Lembaga Raket Prasaja.
    Atas perhatian, bantuan, dan kerjasamanya dari semua pihak di ucapkan terima kasih.

    Malang, 21 Juni 2011

    LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”

    Posted under: Kegiatan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">