SEJARAH, FILOSOFI AKSARA DAN PENANGGALAN JAWA

RAHAYU…..!!!

HONG WILAHENG SEKAR BHAWANA LANGGENG……!

 

I.       AKSARA JAWA

 

Sejarah Aksara dan Penanggalan Jawa selalu  terkait. Kalau Penanggalan Jawa berdasarkan “Sangkan Dumadining Bawana” atau asal-muasal terciptanya alam semesta (makrokosmos dan mikrokosmos), sedangkan Aksara Jawa berdasarkan “Sangkan Paraning Dumadi” atau asal-muasal terjadinya hidup dan kehidupan (SOURCE SPIRIT ALWAYS OF LIFE). Aksara Jawa pertama kali diciptakan  atau diperkenalkan oleh Mpu Hubayun pada tahun ± 911 SM (Sebelum Masehi). Dalam perjalanan sejarah pada tahun 50 SM (Sebelum Masehi) Prabu Sri Maha Punggung I atau Ki Ajar Padang I mengadakan perubahan pada Haksara  dan sastra Jawa.

Bertepatan tanggal  21 Juni 77 M oleh Prabu Ajisaka atau Prabu Sri Maha Punggung III melakukan kembali perubahan aksara dan Penanggalan Jawa, dalam budaya Jawa ketika menghitung selalu dimulai dari angka nol (Das), sehingga Penanggalan Jawa kembali bermulai  pada tanggal 1 Badrawarna (Suro) tahun Sri Harsa, Windu Kuntara adalah tanggal 1, Bulan 1, Tahun 1, Windu 1 tepat pada hari Radite Kasih (Minggu Kliwon) ditetapkan permulaan  perhitungan  Penanggalan Jawa, bertepatan tanggal  21 Juni 78 Masehi. Penanggalan Jawa memakai pedoman peredaran Matahari  (Solar). Sedangkan kalender Caka Hindhu diciptakan oleh Maharaj Kaneshaka dari suku Avicaka di India Utara pada 23 Maret 78, sekarang tahun barunya disebut tahun baru Nyepi.

Prabu Ajisaka adalah asli orang Jawa bukan dari India, serta memiliki banyak  nama atau gelar, yaitu: Prabu Jaka Sangkala, Prabu Widayaka, Prabu Sindula, Prabu Sri Maha Punggung III, Ki Ajar Padang III. Salah satu petilasannya ada di Mrapen (Api Abadi) daerah Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Beberapa bukti kalau Ajisaka asli Jawa adalah :

1.   Pusaka yang diperebutkan oleh para Pembantunya (Punakawan) adalah Keris, sedangkan sampai detik ini diakui oleh seluruh dunia bahwa Keris adalah asli budaya Jawa,. Karena kalau seandainya Ajisaka dari India tentunya di India akan banyak ditemukan pusaka Keris yang kuno maupun yang baru.

2.   Para Pembantu (Punakawan) Ajisaka sebenarnya ada empat (4) orang, bukan dua (2) orang seperti yang selama ini dikenal orang dan kadang diajarkan di bangku sekolah.  Dari nama-nama para pembantu (punakawan) Ajisaka ditilik dari bahasa menandakan asli bahasa Jawa Kuna atau Kawi. Sedang Nama-nama Pembantu (Punakawan) Ajisaka adalah :

a.   Dura : bacanya tetap pakai vokal “a”, karena kalau dibaca  pakai vocal “O” artinya akan berubah jauh dan tidak ada keterkaitan atau tidak relevan (duro=bohong). Sedangkan dalam berbagai catatan sejarah bahasa dan sastra Jawa mulai banyak menggunakan vokal “O” pada masa sesudah abad 14 terpengaruh sastra Arab. Sedang  kalau “Dura” (ra dibaca dengan vokal “A”) dalam bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam  dari anasir air “ (Hidrogen), tetapi kalau “Dura” (ra dibaca dengan vokal “O”) artinya “bohong”.

b.   Sambadha : “badha” kalau dibaca dengan vocal “A” dalam bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam dari anasir api” (Nitrogen), tetapi kalau dibaca dengan vokal “O”  (sembodho) artinya “mampu” dan tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan sangkan paraning dumadi maupun sangkan dumadining bhawana.

c.    Duga : “ga” kalau dibaca dengan vokal “A”  dalam bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam dari anasir tanah” (Carbon), tetapi kalau dibaca dengan vokal “O” berarti “pangati-ati” (dugo-kiro) diartikan dalam bahasa Indonesia secara bebas berarti “peringatan & arahan” dan juga tidak relevan dengan sangkan paraning dumadi maupun sangkan dumadining bhawana.

d.   Prayuga : kalau dibaca dengan vokal “A” bahasa Jawa Kuna berarti “unsur alam dari anasir angin (Oksigen)” , tetapi kalau dibaca “prayugo” artinya “sebaiknya” dan juga tidak relevan dengan sangkan paraning dumadi maupun sangkan dumadining bhawana.

3.   Semua empat anasir tersebut adalah anasir alam yang ada pada alam semesta atau Jagad Gedhe atau Bhawana Ageng atau Makrokosmos, serta terdapat juga pada tubuh manusia atau Jagad Cilik atau Bhawana Alit atau Mikrokosmos.

4.   Sedang nama Ajisaka juga asli bahasa Jawa Kuna (Aji-Saka) yang berarti seorang Raja yang mengerti dan mempunyai kemampuan spiritual atau Raja-Pinandhita atau Pemimpin Spiritual. Dengan kata lain adalah seorang pemimpin yang ahli ilmu tata negara, bangsa, masyarakat (kehidupan), sekaligus menguasai tentang agama atau spiritual (hidup). Karena Aji artinya Raja, sedang Saka artinya tiang atau pedoman hidup. Aji Saka berarti seorang raja yang mengerti akan “Hidup” dan “Kehidupan”. 

Sehubungan hal tersebut, pada pasangan (sandangan) aksara Jawa ada simbol-simbol 4 anasir alam, antara lain :
1.  Carbon atau Tanah disimbolkan dengan Pepet.
2.  Hidrogen atau Air disimbolkan dengan Wulu.
3.  Nitrogen atau Api disimbolkan dengan Soco atau Cecek.
4.  Oksigen atau Angin disimbolkan dengan Layar.

Di prasasti Candi Borobudhur atau SWAMBHA-BUDHURA, kira-kira pada abad 7-8 Masehi. Perkiraan penelitian arkeolog dengan meneliti lapisan batu bawah dan atas, diperkirakan Candi Borobudhur dibangun selama 104 tahun, Mpu Galian dan Mpu Gunadharma melakukan perubahan atau penyempurnaan kembali aksara Jawa.

Aksara dalam Bausastra Jawa artinya “tulisan gambaring swara utawa wanda” kalau dialihkan dalam bahasa Indonesia berarti tulisan gambar dari suara atau penampilan. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuna aksara dari kata “hak & sara” yang berarti “darbeg-ing galih” arti bebas dalam bahasa Indonesia berarti miliknya hati atau suara hati.

Selama ini makna atau filosofi aksara Jawa yang dipahami oleh masyarakat umum (terutama pada masyarakat pecinta budaya Jawa) banyak sekali dan sangat beragam, tetapi cenderung terkesan “gathuk mathuk” & “seje silit seje anggit”,  walau dari sisi ilmu sastra masih bisa diterima. Tetapi yang menjadi keprihatinan, seolah-olah meng-amin-i atau menguatkan pandangan minor dari masyarakat umum, terutama generasi muda dan orang-orang yang selama ini membenci budaya Jawa.  Kalau budaya Jawa itu identik dengan gathuk-mathuk, gugon-tuhon, klenik, mistik dan apapun yang terkesan tidak rasional dan ilmiah. Padahal kalau kita pelajari budaya Jawa yang benar, ada kata kunci yaitu “kasunyatan lan tinemu ing nalar” atau dengan kata lain “ilmiah dan rasional.

 

Contoh 1:


Aksara Jawa

Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia

HA

HAsal Dzat Hyang Suksma Jati nrangi.

Asal mula dari Dzat Tuhan Roh-Jati yang menerangi.

NA

NAndho daya prana gung ametha.

Menimbun daya nafas kehidupan agung membentuk.

CA

CAhya cipta-budi kabeh.

Cahya cipta-budi menyeluruh.

RA

RAsa jajag tyas anggung.

Rasa mendasar dalam hati selalu.

KA

KArsa lancar manrus ngugemi.

Berkehendak lancar terus menerus dan berpegang teguh.

DA

DAden tuhu ucapnya.

Menyalakan api setia pada ucapannya (jujur).

TA

TAnsah hamemayu.

Senantiasa menjaga dan berbuat baik.

SA

SArwindra muji Hyang Suksma.

Serba perasa, berfikir dan beribadah kepada Tuhan.

WA

WAntu dahat mangunah Gusti kapundhi.

Tak hentinya untuk selalu menggapai ridho Tuhan dan memujaNya.

LA

LAntip ruming nestapa.

Dengan bijaksana dan semerbak harumnya rasa keprihatinan.

PA

PAndomira condhong anggung eling.

Pedomannya cenderung senantiasa waspada dan sadar diri.

DHA

DHAmang catur sangkan paran kwawa.

Memahami makna asal mulanya dan bagaimana mampunya.

JA

JA lirwa ing saancase.

Jangan lengah akan semua tujuan dasar semula.

YA

YA ngayogya tinuntun.

Yaitu patut dilakukan dengan bimbingan.

NYA

NYAng karya tamaning dumadi.

Kearah kebajikan hidup dan rasa kemanusiaan.

MA

MArma tinata mbaka.

Maka diatur dengan sistematis.

GA

GAyuh hanyadarum.

Cita-cita yang menyeluruh.

BA

BAkal adi tyas sakeca.

Akan membuat indah dan senangnya hati.

THA

THArik ning jalmo eling jatining urip.

Tata kecerahan fikir manusia akan hidup sejati atau sejatinya hidup.

NGA

NGAngkah ningrat nunggal Hyang.

Menggapai keheningan tingkat atas alam menyatu dengan TUHAN.

 

Contoh 2 :


Aksara Jawa

Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia

HA

HAng, Hing, Hung, Heng, Hong. Sabdaning  Angin (Howo kang obah).

Sesuatu yang awal. Sebab-akibat dari sabda kehidupan.

NA

Nitahake, nganakake, ngayomi, lan nyirnakake.

Menciptakan, memelihara, dan Menghancurkan.

CA

CAhya, nanging cahyaning Tejo.

Cahaya dari intisari Cahaya (Cahaya Tuhan).

RA

RAsa, nanging rasaning Urip.

Rasa sejati sang hidup.

KA

Karsa, nanging karsaning Urip.

Kehendak sejati sang hidup.

DA

DAtan sirna sejatining Urip.

Sejatinya Hidup tidak akan pernah sirna (Hidup itu kekal).

TA

Tumitis awit titis.

Terlahir karena kehendak yang benar dan dikehendaki.

SA

SAri rasaning sagung gumelar.

Sari kehidupan alam semesta.

WA

Wandita, wahana kang winadi lan wola-wali.

Sesuatu yang unggul, penuh misteri dan sistematis serta dinamis.

LA

Lumaris, lumaksana datan kendat awit jantraning jagad.

Semua berjalan dinamis sesuai dinamika atau kodrat alam.

PA

PAntio, papan, sasana.

Alam tempat Hidup dan kehidupan.

DHA

DHAwuh, sabda, pangandika.

Firman dan sabda Tuhan

JA

JAgad cilik lan jagad gede.

Alam semesta meliputi mikrokosmos, dan makrokosmos.

YA

Yekti, sejati.

Betul-betul sejatinya hidup dan kehidupan.

NYA

NYAwiji, manunggal.

Menjadi satu kesatuan.

MA

MArmo.

Menjadikan sebab dan akibat.

GA

GAntio, owah, obah.

Perubahan yang dinamis.

BA

Binuka, kagelar.

Terbuka dan tergambar dengan adanya alam semesta.

THA

THukul, semi.

Selalu tumbuh dan bersemi.

NGA

NGAkasa, Awang-uwung.

Menuju alam awang-uwung (back hold life) menyatunya Sang Hidup dan Sang Maha Hidup.

 

Makna dan filosofi aksara Jawa seperti dua contoh tersebut sangat banyak dan beragam. Beda orang, beda paham/keyakinan dan beda daerah, beda pula pemahaman atau penjabaran mereka dengan sistem akronim (singkatan), sehingga kadang cenderung terkesan gathuk-mathuk.
 Karena prinsip dasar dalam budaya Jawa adalah “kasunyatan dan tinemu
ing nalar” (ilmiah dan rasional), bukan sekedar gathuk-mathuk. Sekarang kita coba memahami makna dan filosofi aksara Jawa dengan metode atau paradigma lain.  

 


Aksara Jawa

Makna Dasar

Makna Bebas

HA, NA, CA, RA, KA

Ono utusan (ada utusan).

Apapun dan siapapun yang ada di alam semesta ini (makrokosmos dan mikrokosmos), semua adalah utusan Tuhan. Sehingga manusia, hewan, tumbuhan, virus, tanah, air, api, udara, mahkluk permanen, semi permanen, abstrak, dll. semua adalah utusan Tuhan.

DA, TA, SA, WA, LA

Datan bisa swala (tidak bisa menolak kodrat dan takdir Tuhan).

Semua utusan tadi tidak mampu menolak dari semua kehendak Tuhan, sehingga sebagai utusan Tuhan harus menjalankan kodrat alam yang merupakan manifestasi dari kekuasaan Tuhan. Contoh : manusia harus menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai manusia, ikan harus menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai ikan, burung harus menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai burung, dll.

 

PA, DHA, JA, YA, NYA

Semua diberi kekuatan dan bekal sesuai dengan kodrat dan takdir sebagai utusan Tuhan.

v  Untuk menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai burung, burung diber i kekuatan dan bekal untuk bisa terbang, memilah biji-bijian tertentu untuk menjadi makanannya, dll.

v  Ikan untuk menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai ikan, ikan diberi kekuatan dan bekal untuk hidup didalam air, dll.

v  Manusia untuk menjalankan kodrat dan takdirnya sebagai manusia, manusia di beri kekuatan dan bekal yang melebihi dari utusan lain. Sehingga manusia bisa sedikit merubah kodrat alam, contoh :

·       Kodrat manusia tidak bisa terbang seperti burung tetapi manusia mampu merubah kodrat tersebut sehingga sekarang manusia mampu terbang, bahkan bisa melebihi tingginya burung terbang.

·       Kodrat manusia tidak bisa hidup didalam air tapi sekarang manusia bisa hidup didalam air dengan peralatan selam.

·       Kodrat malam adalah gelap tetapi manusia mampu merubah kodrat tersebut sehingga sekarang malam bisa menjadi terang.

v  Dll.

 

MA, GA BA, THA, NGA

Urip iki bathangan (hidup ini adalah misteri dan teka-teki).

Hidup ini merupakan misteri dan teka-teki dari Tuhan Yang  Maha Kuasa. Sehingga sebagai utusan Tuhan harus mampu mencari Jatidiri dan menjadi diri sendiri sesuai dengan kodrat dan takdirnya. Diharapkan kalau sebagai utusan Tuhan ,mampu mengerti Hidup Sejati tentu akan terjadi komunikasi yang intens antara Sang Hidup (utusan/caraka) dengan Sang Maha Hidup (Tuhan).

 

Selain pemahaman tersebut diatas, ada makna lain yang sangat tinggi nilai filosofinya, yaitu : semua aksara Jawa “dipangku” mati dan akan berubah atau berganti makna maupun arti, kecuali aksara JA dan WA. Maksudnya : siapapun kita, apapun agama atau suku kita,  apapun kedudukan kita, seberapa tinggi kekuasaan kita, seberapa tinggi kepandaian kita, kalau dipangku oleh situasi dan kondisi tersebut masih “mati” jiwa kita berarti kita belum JAWA. Dengan kata lain bisa diartikan JAWA adalah “sesuatu yang tidak pernah mati”, atau SPIRIT ALWAYS OF LIFE atau Jiwa yang selalu hidup atau jiwa yang tidak pernah mati. Sehingga kalau kita betul-betul mempelajari Jawa akan kita temukan pengertian : Spirit Of Java (Jiwa Jawa), Javanese culture (Budaya Jawa), Javanologi (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi  Jawa maupun budaya Jawa). Sedangkan  aliran/penghayat kepercayaan adalah Spiritual Culture.

 

II.      PENANGGALAN JAWA

Pada waktu jaman Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung  Hanyakra Kusuma, waktu itu ada ancaman pengaruh bangsa asing (VOC)  yang sudah menguasai Sunda Kelapa (Batavia) sangat besar dan terasa mengancam keselamatan rakyat maupun kedaulatan Negara. Sehingga terpikir bagaimana membuat rakyatnya rukun dan bersatu yaitu dengan cara meng-Akulturasi-kan tiga ungsur  budaya yang ada  pada waktu itu (Jawa, Hindhu, Islam), disimboliskan pada bentuk perubahan Penanggalan Jawa. Tetapi karena berbeda pedoman dasar peredaran  yaitu Matahari (Solar) untuk Penanggalan Jawa dan kalender Hindhu, sedangkan Bulan (Lunar) untuk kalender Hijriah, sehingga walaupun disatukan  (khususnya Penanggalan Jawa dan Kalender Hijriah) dengan cara dihilangkannya  satu masa Penanggalan Jawa (4 windu=4×8=32 tahun), tetapi walau begitu tetap saja berselisih satu hari. Karena hal ini pula akhirnya muncullah istilah tahun ABOGE (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rebo Wage) dan tahun ASAPON (tahun Alip, tgl. 1 Suro jatuh hari Seloso Pon). Perubahan ini  bertepatan tanggal  1 Muharram 1043 H = 29 Besar 1554 Jawa =  8 Juli 1633 M.

Sekarang masa Sultan Agung sudah lama berselang, banyak kalangan yang  berpendapat kalau aksara dan Penanggalan Jawa sudah waktunya perlu diadakan perubahan atau penyesuaian dengan perkembangan jaman, supaya tetap elegan dan flexibel di segala jaman. Tetapi supaya tetap tidak kehilangan roh atau jatidiri, dalam mengadakan perubahan tersebut jangan merubah makna dan filosofi aslinya, seperti yang terjadi dalam sejarah terjadinya perubahan aksara dan Penanggalan Jawa, walau perubahan tersebut berkali-kali, tetapi tetap tidak merubah makna dan filsafat aslinya. Barangkali karena perubahan yang dilakukan Sultan Agung Hanyakrakusuma cukup signifikan, sehingga mengakibatkan keterpurukan bangsa ini semakin parah sejak runtuhnya Majapahit, dan sampai sekarang keterpurukan itu belum pulih karena akibat dari hilangnya Jatidiri bangsa ini.  Sementara itu, mulai masa Sultan Agung sampai sekarang, belum ada yang berani melakukan perubahan atau penyesuaian. Ada yang berpendapat  kalau Penanggalan Jawa seharusnya setiap 75 atau 120 tahun sekali harus diadakan penyesuaian. Ada yang berpendapat, kalau sekarang dekade perhitungan tahun ABOGE sudah berakhir dan sudah seharusnya diganti decade perhitungan tahun ASOPON. Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, lebih baik demi kembalinya sebuah Jati Diri bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang punya dan kuat JATI DIRI-nya. lebih baik  kita kembali pada Penanggalan Jawa asli yang diciptakan oleh Mpu Hubayun (911 SM) dan kita usahakan menjadi kalender nasional atau bahkan kalender internasional, karena Jawa adalah Global genius, bukan Local genius. Dengan pertimbangan :

1.   Penanggalan Jawa Mpu Hubayun adalah Penanggalan Jawa asli dan yang pertama atau tertua (911 SM).

2.   Kalender yang penuh dengan nilai-nilai filosofi tinggi, yang menandakan bangsa kita adalah bangsa yang besar. Sehingga kalau bisa Penanggalan Jawa diangkat menjadi Kalender Nasional Negara Indonesia. Karena tidak semua bangsa dan negara di dunia memiliki kalender sendiri.

3.   Kalender yang mengarah pada keselarasan atau keharmonian alam  semesta, karena berdasarkan proses awal terjadinya alam semesta (Sangkan Dumadining Bhawana).

4.   Penanggalan Jawa yang selaras dengan aksara Jawa, Sangkan Dumadining Bhawana dan Sangkan paraning Dumadi.

5.   Satu-satunya kalender di dunia yang mengakomodasi makrokosmos dan mikrokosmos, sehingga tidak sekedar kalender yang hanya memakai hitungan angka.

6.   Penanggalan Jawa harus berdiri diatas semua golongan (agama,suku). Karena makna kata JAWA itu sendiri tidak bermakna sukuisme maupun kedaerahan (teritorial). Sedangkan Penanggalan Jawa Sultan Agung, selain adanya polemik dengan berbagai pendapat yang berbeda juga terlalu banyak mengadopsi pengaruh Islam. Sehingga orang yang tidak memeluk agama Islam, muncul perasaan tidak merasa ikut memiliki, sedang pemeluk agama Islam sendiri  juga banyak yang tidak merasa memiliki karena dianggapnya peninggalan agama Hindhu. Semua itu berakibat hilangnya nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, guyub-rukun, yang menjadi ciri-khas bangsa kita. Akibatnya sekarang ini banyak orang yang sudah tidak mengenal lagi atau sudah tidak peduli pada Penanggalan Jawa, aksara Jawa dan Budaya Jawa.

7.   Kalender atau penanggalan adalah simbol kehidupan sehari-hari, sementara kalender yang ada sekarang ini dan menjadi kalender resmi nasional negara Indonesia, tercetak angka besar kalender Masehi dan angka kecil kalender Hijriah. Tanpa kita sadari sudah cukup lama ada kekuatan tertentu yang ingin menghancurkan Nusantara/Indonesia dengan berawal menghilangkan simbol kehidupan sehari-hari Nusantara/Jawa. Alhasil sekarang ini secara umum bangsa kita merasa malu, hina dan tidak bangga menggunakan simbol-simbol Nusantara dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga terpuruklah bangsa kita sekarang ini.

 

A.    PENETAPAN HARI DALAM PENANGGALAN JAWA (Makrokosmos).

1.   Hari ke-1 berdasarkan Surya disebut  Radite atau Rawiwara sekarang Minggu (Dipengaruhi Planet Matahari), naptunya 5.

2.   Hari ke-2 berdasarkan Rembulan disebut Suma atau Sumawara sekarang Senen (Dipengaruhi Planet Bulan), naptunya 4.

3.   Hari ke-3 berdasarkan  Kartika-I disebut Anggara atau Manggala sekarang Selasa (Dipengaruhi Planet Mars), naptunya 3.

4.   Hari ke-4 berdasarkan Pertiwi disebut Buda atau Pertala sekarang Rebo (Dipengaruhi Planet Bumi), naptunya 6.

5.   Hari ke-5 berdasarkan  Kartika-II disebut Respati sekarang Kamis (Dipengaruhi Planet Jupiter), naptunya 8.

6.   Hari ke-6 berdasarkan  Kartika-IV disebut Sukra sekarang Jum’at (Dipengaruhi Planet Uranus dan Venus), naptunya 6.

7.   Hari ke-7 berdasarkan  Kartika-III disebut Tumpak sekarang Sabtu (Dipengaruhi Planet Saturnus), naptunya 9.

 

B.    SIFAT – SIFAT MAKROKOSMOS

1.   Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama sistem Tata Surya ini. Bintang ini berukuran 332.830 massa bumi. Massa yang besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa mendukung kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi yang dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi eletromagnetik, termasuk spektrum optik.

2.   Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi, dan merupakan satelit alami terbesar ke-5 di Tata Surya. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya sendiri dan cahaya Bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari.

3.   Mars (1,5 SA dari matahari, SA : Satuan Astronomi = ± 150 juta kilo meter) berukuran lebih kecil dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi). Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi gunung berapi raksasa seperti Olympus Mons dan lembah retakan seperti Valles marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil (Deimos dan Phobos) yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.

4.   Bumi (1 SA dari matahari) adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat, satu-satunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga merupakan satu-satunya planet yang diamati memiliki lempeng tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit, bulan, satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.

5.   Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi, adalah 2,5 kali massa dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utamanya adalah hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter menyebabkan timbulnya beberapa ciri semi-permanen pada atmosfernya, sebagai contoh pita pita awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63 satelit. Empat yang terbesar, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa menampakan kemiripan dengan planet kebumian, seperti gunung berapi dan inti yang panas.[44] Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata Surya, berukuran lebih besar dari Merkurius.

6.   Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi, adalah planet yang paling ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit. Uranus mengedari matahari dengan bujkuran poros 90 derajad pada ekliptika. Planet ini memiliki inti yang sangat dingin dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi panas. Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui, yang terbesar adalah Titania, Oberon, Umbriel, Ariel dan Miranda.

7.   Venus (0,7 SA dari matahari) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi). Dan seperti bumi, planet ini memiliki selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan memiliki aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer. Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum dideteksi, tetapi karena planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.

8.   Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya, memiliki beberapa kesamaan dengan Yupiter, sebagai contoh komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar 60% volume Yupiter, planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga Yupiter atau 95 kali massa bumi, membuat planet ini sebuah planet yang paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60 satelit yang diketahui sejauh ini (dan 3 yang belum dipastikan) dua di antaranya Titan dan Enceladus, menunjukan activitas geologis, meski hampir terdiri hanya dari es saja.  Titan berukuran lebih besar dari Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang memiliki atmosfer yang cukup berarti.

 

C.  PENETAPAN PASARAN DALAM PENANGGALAN JAWA (Mikrokosmos).

Disamping itu ada Pasangan atau  Sisihan Hari yang berdasarkan sedulur 4 kalima Pancer yang berupa cahaya:

1.   Cahaya berwarna Putih disebut  Pethakan sekarang  disebut Manis/Legi, unsur Udara atau Oksigen. Naptunya  5.

2.   Cahaya berwarna Merah disebut  Abritan sekarang  disebut Jenar/Paing, unsur Api atau Nitrogen. Naptunya 9.

3.   Cahaya berwarna Kuning disebut  Jene’an sekarang  disebut Palguna/Pon, unsur Cahaya atau Foton. Naptunya 7.

4.   Cahaya berwarna Hitam disebut  Cemengan sekarang  disebut Langking/Wage, unsur Tanah atau Carbon. Naptunya 4.

5.   Cahaya berwarna Hijau disebut Gesang atau pancer disebut Kasih/Kliwon, unsur air atau Hidrogen. Naptunya 8.

 

D.  SIFAT – SIFAT MIKROKOSMOS

1.   Udara :

a.   Memiliki masa sehingga dapat menimbulkan tekanan

b.   Transparan dalam beberapa bentuk radiasi

c.   Tidak berwarna,tidak berbau dan tidak dapat dirasakan kecuali dalam bentuk angin.

d.   Bersifat elastis dan dinamis,sehingga dapat mengembang dan mengkerut sehingga dapat bergerak dan berpindah

2.   Api :

a.   Api adalah oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kiwiami, yang menghasilkan panas, cahaya, dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya.

b.   Api berupa energi berintensitas yang bervariasi dan memiliki bentuk cahaya (dengan panjang gelombang juga di luar spektrum visual sehingga dapat tidak terlihat oleh mata manusia) dan panas yang juga dapat menimbulkan asap.

3.   Cahaya :

a.               Cahaya merambat lurus

b.               Cahaya dapat menembus benda bening

c.               Cahaya dapat dipantulkan

d.               Cahaya dapat dibiaskan

4.   Tanah :

a.               Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme.

b.               Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral.

5.   Air :

a.   air mengalir dari permukaan tinggi ke rendah, karena gaya gravitasi

b.   air mengalami kapilaritas, yaitu meresapnya partikel air melalui celah2 kecil

c.   permukaan air yang tenang adalah datar

d.   air dapat memantulkan maupun membiaskan cahaya

e.   bayangan benda yang dilihat di air pasti lebih kecil dari ukuran sebenarnya

 

E.     PENETAPAN BULAN DALAM PENANGGALAN JAWA (CANDRA)

1.        Bulan ke-1 disebut Badra Warna sekarang disebut Sura, Naptunya 7.

2.        Bulan ke-2 disebut Asuji sekarang disebut Sapar, Naptunya 2.

3.        Bulan ke-3 disebut Kartika sekarang disebut Mulud/Rabi’ulawal, Naptunya 3.

4.        Bulan ke-4 disebut Pusa sekarang disebut Bakda Mulud/Rabi’ulakhir, Naptunya 5 .

5.        Bulan ke-5 disebut Manggasri sekarang disebut Jumadilawal, Naptunya 6.

6.        Bulan ke-6 disebut Sitra sekarang disebut Jumadilakir, Naptunya 1.

7.        Bulan ke-7 disebut Manggalaka sekarang disebut Rejeb, Naptunya 2.

8.        Bulan ke-8 disebut Naya sekarang disebut Ruwah/Sadran, Naptunya 4.

9.        Bulan ke-9 disebut Palguna sekarang disebut Puasa, Naptunya 5.

10.    Bulan ke-10 disebut Wisaka sekarang disebut Syawal, Naptunya 7.

11.    Bulan ke-11 disebut Jita sekarang disebut Apit/Dulkaidah/Selo, Naptunya 1.

12.    Bulan ke-12 disebut Srawana sekarang disebut Besar/Dulhijah, Naptunya 3.

 

F.         PENETAPAN TAHUN ATAU WARSA DALAM PENANGGALAN JAWA

1.      Tahun ke-1 disebut Sri/Harsa sekarang di sebut tahun Alip, Naptunya 1.

2.      Tahun ke-2 disebut Endra/Heruwarsa sekarang di sebut tahun Ehe, Naptunya 5.

3.      Tahun ke-3 disebut Guru/Jimantara sekarang di sebut tahun Jimawal, Naptunya 3.

4.      Tahun ke-4 disebut Yama/Duryata sekarang di sebut tahun Je, Naptunya 7.

5.      Tahun ke-5 disebut Ludra/Dhamma sekarang di sebut tahun Dal, Naptunya 4.

6.      Tahun ke-6 disebut Brahma/Pitaka sekarang di sebut tahun Be, Naptunya 2.

7.      Tahun ke-7 disebut Kala/Wahyu sekarang di sebut tahun Wawu, Naptunya 6.

8.      Tahun ke-8 disebut Uma/Dirgawarsa sekarang di sebut tahun Jimakir, Naptunya 3.

 

G.    PAWUKON ATAU SATUAN MINGGU DALAM PENANGGALAN JAWA

1.              Sinta                                                                 11.        Kuningan                                                        21.        Wuye

2.              Landep                                                 12.        Langkir                                                 22.          Manail

3.              Kurantil                                                 13.        Mandhasia                                            23.          Prangbakat

4.              Tolu                                                                  14.        Julungpujud                                        24.        Bala

5.              Gumbreg                                                          15.        Pahang                                               25.        Wugu

6.              Warigalit                                                           16.        Kuruwelut                                            26.        Wayang

7.              Warigagung                                          17.        Maraken                                                          27.        Kulawu

8.              Julungwangi                                          18.        Tambir                                                  28.          Dhukut

9.              Sangsang                                             19.        Madhangkungan                        29.          Watugunung

10.            Gunungan                                             20.        Maktal                                                  30.          Wukir

 

H.     PARINGKELAN DALAM PENANGGALAN JAWA

1.      Tungle atau Ujungan (Ron)

2.      Aryang atau Tiyang (Wong)

3.      Warungkung atau Sato (Kewan)

4.      Paningron atau Ulam (Iwak)

5.      Uwas atau Peksi (Manuk)

6.      Mawulu (Wiji)

 

I.       MANGSA dalam Penanggalan Jawa

Mangsa adalah nama waktu sebulan (seperdua belas tahun) tetapi lamanya tidak sama, ada yang kurang dari 30 hari dan ada juga yang lebih dari 40 hari. Perhitungan mangsa dimulai dan matahari tampak di sebelah utara (bulan Juni). Mangsa juga merupakan penggambaran indikator birahi alam, sehingga mangsa banyak digunakan para petani untuk pedoman bercocok tanam. Contoh : 1. birahinya anjing kawin itu mangsa 9, sehingga tidak akan kita temukan anjing kawin pada mangsa yang lain. 2. Adanya musim buah – buahan.

Nama mangsa pada umurnya sebagai berikut:

1.     Kartika                  =   Kasa              =   22 Jun – 01 Agt            =   41

2.     Pusa                     =   Karo              =   02 Agt – 24 Agt            =   23

3.     Manggasari           =   Katelo            =   25 Agt – 17 Sep            =   24

4.     Sitra                      =   Kapapat         =   18 Sep – 12 Okt            =   25

5.     Manggakala          =   Kalima           =   13 Okt – 08 Nop           =   27

6.     Naya                     =   Kaenem         =   09 Nop – 21 Des           =   43

7.     Palguna                =   Kapitu            =   22 Des – 02 Peb           =   43

8.     Wisaka                  =   Kawolu           =   03 Peb – 28 Pem          =   26

9.     Jita                       =   Kasongo        =   01 Mar – 25 Mar            =   25

10.  Srawana                =   Kasepuluh      =   26 Mar – 18 Apr            =   24

11.  Badrawana            =   Kasewelas      =   19 Apr – 11 Mei            =   23

12.  Asuji                     =   Karolas          =   12 Mei – 21 Jun            =   41

Mangsa Kasewelas disebut pula Dhestha.

Mangsa Karolas disebut pula Sadda.

J.         HARI SENGKALA dalam Penanggalan Jawa

Hari sengkala adalah hari wewenang jin untuk memusuhi (menggoda / mengganggu) manusia, oleh karena itu bagi manusia adalah sengkala artinya halangan atau gangguan.

Nama hari-hari sengkala adalah :

1.   Sampar wangke = tersandung bangkai = tidak baik untuk punya hajat, bepergian jauh atau maju perang.

2.   Tali wangke = tali bangkai = tidak baik untuk punya hajat, pergi jauh dan maju perang.

3.   Sari Agung = larangan besar = tidak baik untuk punya hajat, pergi jauh dan maju perang.

4.   Kala Renteng = kala hari berturut-turut, tidak baik untuk punya hajat, pergi jauh dan maju perang.

5.   Aryang = ringkel jalma = nasib tidak baik untuk manusia, tidak baik untuk punya hajat, pergi jauh dan maju perang.

 

K.         HARI BAIK dalam Penanggalan Jawa

Menurut kepercayaan kuno ada dua hari baik untuk punya hajat dan berusaha :

1.   Sri tumpuk, baik untuk meminang, menikah, mulai mananam segala macam tananam, mulai berusaha (berdagang atau mendirikan perusahaan)

2.   Bulan atau wuku yang ada harinya Anggara Kasih, baik untuk meminang, menikah, khitanan, boyongan, dan segala macam usaha.

 

L.   HARI KELAHIRAN

Hari kelahiran biasanya dianggap baik bagi yang orang lahir pada hari itu, oleh karena banayk orang yang memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, bersemadi, bersedekah dan lain sebagainya. Bahkan pada hari kelahirannya dipergunakan segala macam hajat yang baik, misalnya pindah rumah, mendirikan rumah, mulai berusaha dan segala macam perbuatan baik. Biasanya yang dianggap tantangan bagi seseorang sesuai dengan kelahirannya ialah hari Puput Puser, ialah pangkal pusatnya sudah mengering lalu lepas dari perutnya.

 

M.     DINA UWAS

Hari yang tidak pernah ditempati tahun baru Jawa disebut Dino Uwas (Dino tanpo tanggal) tidak baik untuk segala keperluan, hari tersebut antara lain :

1.      Selasa wage

2.      Rabu legi

3.      Kamis pon

4.      Saptu kliwon

5.      Minggu pahing

 

N.     Watak tahun ketika tahun barunya (1 suro) jatuh pada hari :

1.      Radite (minggu)                       : tahun kelabang atau Date kenobo

2.      Soma (senen)                          : tahun cacing atau soma werjita

3.      Anggara (selasa)                     : tahun kepiting atau anggara rekata

4.      Buda (rabu)                                         : tahun kerbau atau buda mahesa

5.      Respati (kamis)                                   : tahun serangga atau respati mimi-mintuna

6.      Sukra (jum’at)                          : tahun udang atau sukra lengkara

7.      Tumpak (saptu)                                   : tahun kambing atau tumpak menda

 

Demikian sekilas tentang sejarah aksara dan penanggalan Jawa, karena memang saling terkait. Semoga bisa mendatangkan manfaat dalam hidup dan kehidupan kita. Membangkitkan simbol simbol kehidupan Nusantara untuk menuju kebangkitan Nusantara Jaya.
RAHAYU….!!!
     

HONG WILAHING SEKAR BHAWONO LANGGENG

 

 

Malang, 13 September 2014

LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”

 

 

 

 

KRT. Sutrimo Rekso Budaya. SE. MM

Ketua Umum

Posted under: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">