SEKILAS TENTANG HSQ

  1. HSQ dari kata Holy Spiritual Quiescence. Holy berarti suci, Spiritual berarti jiwa (daya hidup) dan Quiescence disini berarti Ketenangan atau kecerdasan. Sehingga yang dimaksud HSQ disini adalah kecerdasan Jiwa yang suci atau berarti juga kecerdasan daya hidup.
  2. Dalam khasanah budaya kita, mulai ribuan tahun silam sudah mengenal 3 hal anugerah Tuhan pada diri manusia, yaitu : Daya Nalar (IQ), Daya Rasa/Emosi (EQ) dan Daya Hidup (HSQ). Leluhur kita mendapat ilham tentang ilmu Daya Hidup (HSQ) ini dan diterapkan pada masa ketika gunung Wilis meletus bersamaan daratan Pulau Madura terpisah dengan Pulau Jawa, kurang lebih pada tahun 6 Masehi. Diceritakan pada masa itu terjadi bencana yang sangat dahsyat, tetapi pemerintahan kerajaan membentuk satgas diberi nama Wirabaya dan dilatih Daya Hidup (HSQ), ternyata bisa meminimalisir jumlah korban jiwa dan kerugian materi.Tetapi hal ini sempat terlupakan oleh kita semua. Sehingga ketika ilmuan barat mengenalkan kembali ilmu ini, baru kita terhenyak. Tetapi oleh ilmuan barat yang dicermati hanya 2 yaitu Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ). Sesudah itu, dalam perkembangannya muncul ESQ atau Emotional Spiritual Quiescence. Sedangkan selama ini manusia beraktifitas sehari-hari hanya mengandalkan Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ).
  3. Sebagian orang ada yang berusaha mengembangkan Daya Rasa/Emosi (EQ). Sedangkan Daya Rasa/Emosi (EQ) terdiri dari 4 hal, antara lain :
  4. - Lodra (Aluamah) : Rasa atau emosi atau nafsu  yang membuat manusia suka makan, minum dan kadangkala cenderung serakah. Tetapi juga membuat manusia menjadi kukuh dan sentosa. – Angkara (Amarah) : Rasa atau emosi atau nafsu  yang membuat manusia mempunyai cita-cita, ambisi, inovasi dan kreatifitas. Termasuk juga luapan rasa marah, sedih, jengkel dan keberanian. Semua itu terkait dengan cita-cita dan ambisi manusia. – Sukarda (Supiyah): Rasa atau emosi atau nafsu yang membuat manusia suka keindahan, suka lawan jenis, termasuk juga nafsu birahi. – Nimpuna (Mutmainah) : Rasa atau emosi atau nafsu yang membuat manusia suka sesuatu hal yang suci dan selalu ingin dekat dengan Tuhan. Menurut sebagian orang mengenai Daya Rasa/Emosi (EQ),  dua (2) bersifat baik dan dua (2) bersifat sebaliknya atau buruk/jahat, sehingga mereka mencoba mengembangkan dua (2) bagian Daya Rasa/Emosi (EQ) yang mereka anggap baik. Terutama yang mereka coba untuk dikembangkan adalah satu bagian Daya Rasa/Emosi (EQ) yang bersifat menyukai sesuatu yang suci atau selalu ingin dekat dengan Tuhan mereka menyebutnya ESQ atau Emotional Spiritual Quiescence yang berarti kecerdasan emosi yang selalu ingin ada kedekatan kepada Tuhan atau Spiritual (nilai-nilai Ketuhanan).

  5. Tuhan Maha Bijaksana. 4 hal bagian Daya Rasa/Emosi (EQ) tersebut diciptakan Tuhan untuk sebuah keseimbangan dan “kesempurnaan” sebagai manusia. Sehingga jika kita mengabaikan sebagian dari Daya Rasa/Emosi (EQ) dan mengutamakan sebagian Daya Rasa/Emosi (EQ) yang lain, tentu akan muncul ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan dalam kehidupan manusia. Ketika manusia hanya mengutamakan ESQ tentu akan muncul ketimpangan-ketimpangan, dengan indikasi antara lain :
  6. - Merasa paling bersih dan suci, dibanding orang lain. – Merasa paling dekat dengan Tuhan, dibanding orang lain. – Sifat individual  Spiritual lebih dominan, dalam arti yang penting dirinya bisa dekat dengan Tuhan. Ketika bekerja, beramal atau beribadah tidak terfikir akan nilai-nilai sosial, budaya maupun kemanusian. – Dll.

  7. Selama ini ketika manusia mendapat problem, yang beraktifitas pertama adalah Daya Nalar (IQ). Sehingga manusia cenderung akan terus berpikir dan memikirkan problem hidup tersebut. Tetapi ketika Daya Nalar (IQ) tidak mampu mendapatkan solusi, secara otomatis Daya Rasa/Emosi (EQ) akan beraktifitas. Sehingga manusia cenderung akan terus merenung dan merenungkan problem hidup tersebut. Tetapi bagi kita yang belum mendalami cara untuk mengoptimalkan Daya Rasa/Emosi (EQ), tentu aktifitas Daya Rasa/Emosi (EQ) tidak maksimal. Daya Rasa/Emosi (EQ) bekerja maksimal atau tidak maksimal, tidak menutup kemungkinan Daya Rasa/Emosi (EQ) juga tidak mampu memberi solusi. Ketika Daya Rasa/Emosi (EQ) juga tidak mampu memberi atau mendapat solusi, tentu akan muncul efek samping, antara lain stres atau depresi. Saat ini diantara kita banyak yang mudah terkena stres ringan atau kecil. Dengan tanda-tanda :
  8. - Mudah gelisah dan bingung. – Mudah sakit kepala. – Mudah sariawan. – Meningkatnya asam lambung. – Buang air besar tidak teratur bahkan mudah mencret. – Dll.

  9. Bagi yang sudah mendalami Daya Hidup (HSQ) ketika mendapat problem (karena setiap manusia pasti punya problem hidup. entah miskin-kaya, bodoh-pandai, muda-tua), dan ketika Daya Nalar (IQ) serta Daya Rasa/Emosi (EQ) tidak mampu memberikan solusi, diharapkan Daya Hidup (HSQ) akan secara otomatis beraktifitas untuk mendapatkan dan memberi solusi. Tentu sesuai dengan tingkat kemampuan kita masing-masing dalam mengoptimalkan Daya Hidup (HSQ).
  10. Daya Hidup bersifat non materi dan universal, tanpa rasa, tanpa emosi atau ambisi. Karena Tuhan bersifat non fisik atau non materi, sedangkan manusia bersifat fisik atau materi. Sehingga kalau manusia ingin komunikasi dengan Tuhan tentu tidak bisa dengan fisik atau materi. Tetapi harus dengan sesuatu non fisik manusia, yaitu : Daya Hidup manusia, karena Tuhan adalah Sang Maha Hidup.
  11. Cara mengoptimalkan Daya Hidup (HSQ), antara lain
  12. - Pengendalian energi terutama yang berasal dari sari-sari makanan, yang selama ini mensuplay energi pada Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ) dalam diri manusia. – Menyeimbangkan 4 anasir alam yang ada pada tubuh manusia. 4 anasir alam tersebut adalah : Karbon, Nitrogen, Hidrogen dan Oksigen. – Berlatih senam Daya Hidup (HSQ) dan pernapasan Daya Hidup (HSQ) secara rutin. – Membuka memori dimasa kita bayi, dengan cara alami bukan dengan hipnotis atau dengan cara instan lainnya. – Karena Tuhan Maha Universal, sehingga dalam pelatihan mengoptimalkan Daya Hidup (HSQ) ini tidak menggunakan doa atau mantra dengan bahasa dari suku bangsa manapun atau dari ajaran agama apapun (tanpa doa dan mantra). Sehingga dalam pelatihan mengoptimalkan Daya Hidup (HSQ) ini bisa diikuti oleh suku bangsa manapun dan dari agama atau aliran apapun. – Pelatihan mengoptomalkan Daya Hidup (HSQ) ini bukan suatu ajaran dan juga tidak bersifat dogma, seperti halnya suatu agama atau aliran atau keyakinan.

  13. Apa bukti manusia mempunyai Daya Hidup (HSQ) ?
  14. - Ketika seseorang membuang bayi dan sesudah berhari-hari baru ditemukan orang, seringkali bayi tersebut ditemukan dalam kondisi hidup. – Ketika terjadi kecelakaan atau bencana dan ada bayi atau balita dalam gendongan. Kadang kala orang tua yang menggendong itu meninggal, tetapi bayi atau balita tersebut masih tetap hidup. – Bayi di dalam kamar (di dalam rumah), di luar rumah bahkan di luar pekarangan ada orang jahat atau akan ada bencana, sering bayi tersebut menangis atau rewel. Disini tergantung orang tuanya peka atau tidak. Semua itu karena pada masa bayi atau balita HSQ (Daya Hidup) masih cukup dominan dibanding aktifitas Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ). Ketika masih bayi atau balita Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ) belum aktif, karena Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ) belum mendapatkan suplay energi terutama yang berasal dari sari-sari makanan. Karena aktifitas Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ) membutuhkan suplay energi dari sari-sari makanan, sedangkan HSQ (Daya Hidup) membutuhkan dan menyerap sari-sari kehidupan. Sehingga seiring bayi atau balita mengkonsumsi makanan, Daya Nalar (IQ) dan Daya Rasa/Emosi (EQ) aktifitasnya mulai meningkat, dan aktifitas Daya Hidup (HSQ) menurun.

  15. Sesuatu hal yang ada hubungannya dengan senam dan pernapasan Daya Hidup (HSQ) :
  16. - Manusia sehat atau sakit, kuncinya di nafas. – Manusia bahagia atau tidak, kuncinya di nafas. – Manusia berkarakter positif atau negatif, kuncinya di nafas.

  17. Manfaat berlatih mengoptimalkan Daya Hidup (HSQ) antara lain :
  18. - Untuk menjaga stamina, kesehatan dan penyembuhan. – Pengendalian emosi atau Daya Rasa. – Pemecahan masalah atau problem kehidupan. – Menjadikan perasaan lebih tenang, damai dan bahagia. – Komunikasi dan penyatuan dengan nilai-nilai kebesaran Tuhan. Sehingga meningkatkan pengakuan adanya Tuhan pada diri manusia.

 

Malang,  Januari 2011
LP3BJ & ORMAS “Raket Prasaja”

Posted under: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <font color="" face="" size=""> <span style="">