I. PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini bencana demi bencana seperti beruntun menerpa Negeri ini. Mulai bencana tsunami di Aceh, banjir-bandang & tanah longsor di Trenggalek, gunung Merapi dan kemarin Gempa Bumi di Yogyakarta serta di Papua. Setiap terjadi bencana alam pasti mengakibatkan banyak kerugian, entah korban jiwa maupun berbagai kerusakan sarana dan prasarana serta berbagai kerugian dalam bentuk lain. Karena melihat kenyataan yang begitu pahit itulah, kami mencoba mengkaji bagaimana caranya untuk mengantisipasi kalau akan terjadi suatu bencana alam. Sehingga ketika terjadi bencana kita bisa berusaha menekan atau meminimalisir resiko kerugian, terutama resiko kerugian korban jiwa. Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak berusaha mengubahnya sendiri.
Semoga hasil kajian kami bisa bermanfaat untuk bangsa ini. Amien.
II. BAHASAN INTI
Ada sebuah pertanyaan yang membuat kita berfikir serius, apakah pada zaman dahulu bangsa kita pernah tertimpa musibah bencana alam yang dahsyat seperti tsunami, gempa bumi atau gunung meletus….? Kalau pernah terjadi, bagaimana cara mereka mengantisipasi. Karena manusia bijak adalah yang mampu belajar dan mengambil hikmah dari berbagai pengalaman (sejarah) masa lalu untuk kebaikan dan kemajuan masa yang akan datang.
Dalam peristiwa tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta kemarin ada fakta yang membuat kita prihatin, yaitu Petugas dan peralatan BMG kita belum mampu memprediksi kalau akan terjadi musibah bencana alam. Selama ini yang terjadi baru sebatas memberi laporan berapa kekuatan gempa, setelah gempa itu terjadi. Sehingga muncul pertanyaan, sebenarnya apa manfaat laporan itu……?. Karena tidak ada prediksi sebelumnya itulah, akhirnya ketika terjadi musibah kita mengalami kepedihan maha dahsyat karena banyak korban jiwa dan kerugian lainnya. Walaupun pada sisi lain ada hikmahnya, yaitu menimbulkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam penanganan pasca bencana. Seperti ketika Aceh terkena tsunami, dari berbagai elemen bangsa turut membantu, begitu juga ketika Yogyakarta tertimpa gempa bumi kemarin.
Rasanya akan lebih baik lagi bila kita mampu memprediksi, sehingga ketika terjadi musibah tidak terlalu banyak korban jiwa seperti di Aceh dan Yogyakarta.
III. PEMECAHAN MASALAH
Kata-kata bijak mengatakan, kalau pengalaman adalah guru yang baik. Sekarang mari kita kaji berbagai musibah yang telah menimpa bangsa ini :
- Pada waktu kejadian tsunami di Aceh, ada kejadian menarik di pulau Simeleu. Walapun pulau tersebut dekat dengan pusat gempa, tetapi warganya malah selamat tidak ada korban jiwa. Karena sebelumnya mereka baru saja melaksanakan upacara ritual adat, nampaknya pada waktu acara tersebut Tetua Adat mendapatkan suatu firasat, sehingga seluruh warganya disuruh mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
- Pada beberapa waktu lalu, ketika Gunung Semeru akan meletus. Seluruh warga yang daerahnya diperkirakan terkena lahar panas disuruh mengungsi. Karena petugas ke-Gunung Api-an (BPPTK) menyatakan kalau Gunung Semeru akan meletus. Tetapi disana ada seorang Tetua yang bernama Mbah Dipo yang tidak mau mengungsi dan warga disekitarnya juga tidak mau mengungsi. Walaupun waktu itu Camat Pronojiwo dan Bupati Lumajang membujuknya. Dan ternyata Gunung Semeru tidak jadi meletus, berarti pernyataan petugas ke-Gunung Api-an (BPPTK) dimentahkan oleh seorang Mbah Dipo, orang desa yang lugu dan tidak berpendidikan formal.
- Ketika Gunung Merapi dinyatakan dalam situasi “Awas Merapi”, disana ada Mbah Marijan yang tidak mau mengungsi walaupun waktu itu beberapa tokoh Nasional mencoba membujuknya. Ini juga merupakan suatu bukti kalau pernyataan petugas ke-Gunung Api-an masih kalah tepat bila dibandingkan dengan pernyataan dan sikap Mbah Marijan. Karena sampai tulisan ini dibuat Gunung Merapi tidak meletus.(kajian ini mulai dibuat tgl. 29 Mei – 20 Juni 2006). Malah seolah-olah petugas BPPTK bagai dipermainkan oleh Gunung Merapi, karena setelah situasi Gunung Merapi dari “Awas Merapi” diturunkan menjadi “Siaga Merapi”, terjadi bencana luncuran abu panas (Wedhus Gembel) menghancurkan kawasan Kali Adhem.(15 Juni 2006). Pada tanggal 13 Juni 2006 kami pergi ke kaki Gunung Merapi.
Dari ketiga fakta di atas, yaitu: Tetua Adat pulau Simeleu, Mbah Dipo dan Mbah Marijan, sebenarnya apa kelebihan beliau-beliau, kenapa sikap dan pernyataannya cukup mencengangkan tapi bisa dibilang cukup efektif, padahal mereka bukan:
- Ahli agama seperti halnya Ulama, Pastor atau Pendeta, yang konon kalau ahli agama dekat dengan Tuhan, sehingga kalau terjadi apa-apa diberi petunjuk.
- Ahli ilmu pengetahuan dan tehnologi sepeti halnya petugas BMG atau ke-Gunung Api-an (BPPTK).
- Seorang Profesor atau Doktor yang menyandang gelar dari pendidikan formal, atau barangkali beliau bertiga perlu diberi gelar.
Ternyata kelebihan beliau bertiga pada sisi kecerdasan Spiritual (SQ), tetapi yang dimaksud spiritual disini bukan agama dalam arti 6 agama resmi yang diakui pemerintah Indonesia. Karena ketika kita bicara agama (Theologi), kita masih terkotak-kotak pada dimensi masing-masing agama (Theologi) tersebut. Sehingga ketika kita bicara agama (Theologi) Islam, otomatis mereka yang tidak menganut agama (Theologi) Islam pasti kurang (tidak) bisa menerima, begitu juga sebaliknya.
Theologi : Theo artinya Tuhan, logi artinya ilmu. Theologi berarti ilmu Tuhan atau ilmu menuju Tuhan dan selama ini bisa juga dipresentasikan agama.
Spiritual : dari kata Spirit yang berarti Jiwa, Semangat atau Hidup.
Sedangkan yang dimaksud Spiritual dalam kajian ini adalah “Daya Hidup”, jadi yang dimaksud kecerdasan Spiritual (SQ) disini adalah kecerdasan “Daya Hidup”. Sedangkan Tuhan adalah Sang “Maha Hidup” juga bersifat universil, sementara antara “Daya Hidup” dan Sang “Maha Hidup” sama-sama non fisik (immateri), sehingga memungkinkan untuk berkomunikasi, daripada bila antara fisik (materi) dengan non fisik (immateri) secara rasio rasanya sangat sulit untuk berkomunikasi. Seperti tubuh manusia adalah fisik (materi), tetapi sebenarnya manusia juga memiliki sesuatu yang non fisik (immateri) yaitu “Daya Hidup” dan orang Jawa menyebutnya “Pancakumara”. Apakah kecerdasan “Daya Hidup” ini bisa dipelajari oleh setiap manusia yang menganut berbagai agama (Theologi) atau kepercayaan. Sehingga ketika kecerdasan “Daya Nalar” (IQ) manusia tidak mampu memecahkan suatu masalah, biasanya manusia akan menggunakan kemampuan atau kecerdasan “Daya Rasa” (EQ) untuk memecahkan permasalahan tersebut. Karena itu, akhir-akhir ini banyak diantara kita mencoba mempelajari kemampuan “Daya Rasa” (EQ) dan ada yang ditingkatkan pada ESQ atau “Daya Rasa Sejati” atau “Caturkumara”. Tetapi disadari atau tidak sebenarnya kemampuan atau kecerdasan “Daya Rasa” (EQ maupun ESQ) kadangkala berefek negatif. Karena bagaimanapun juga baik menurut manusia entah bersifat individu maupun kelompok, belum tentu dirasa baik pula menurut individu atau kelompok lainnya, dan belum tentu pula selaras dengan elemen alam yang lain. Karena itu diharapkan kecerdasan “Daya Hidup” (SQ) yang akan muncul memberi petunjuk solusi dari masalah tersebut ketika “Daya Nalar” (IQ) dan “Daya Rasa” (EQ maupun ESQ) manusia sudah tidak mampu lagi memecahkan masalah. Seperti halnya kejadian di pulau Simeleu, Gunung Semeru dan Gunung Merapi yang dilakukan oleh beliau bertiga. Diharapkan nantinya bila suatu saat akan terjadi bencana kita mampu memprediksi sebelumnya, sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah antisipasi. Minimal kita bisa memperkecil jumlah kerugian dan jumlah korban jiwa, bila bencana tidak bisa kita hindari karena dinamika alam. Metode dan pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” sangat rasional dan “Tanpa Doa, Tanpa Mantra”, sehingga bisa dilakukan atau dipelajari oleh siapapun, lintas etnis, lintas agama (Theologi), lintas jenis kelamin, jadi sangat universil. Kecerdasan “Daya Hidup” (SQ) pada tingkat tertentu akan mencapai pada tingkat yang disebut kecerdasan “Daya Hidup Sejati” atau “Holy Spirit Quiescence” (HSQ). Tetapi apakah, Tetua Adat pulau Simeleu, Mbah Dipo dan Mbah Marijan menguasai ilmu ini. Walaupun kami pernah bertemu langsung dengan beliau, khususnya Mbah Dipo dan Mbah Marijan, tetapi kalau dengan Tetua Adat pulau Simeleu kami belum pernah bertemu langsung, hanya pernah tahu tentang beliau dari mediamasa sewaktu sehabis terjadinya bencana tsunami di Aceh kemarin. Wallahualam.
Menjelang tahun baru 1 Suro 1939 Jawa (Januari 2006) Sutrimo MP selaku ketua yayasan “Raket Prasaja” ketika berbicara di depan warga “Raket Prasaja” se Malang Raya, maupun ketika dialog di berbagai media elektronik (radio TT 77, radio Andalus, radio Kanjuruhan, RRI Protiga dan JTV) tanpa sengaja waktu itu bicara, “Hati-hatilah, nanti antara bulan 5 dan bulan 6 akan terjadi sesuatu yang besar di Negeri ini”. Sehingga ketika Sabtu 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi di Yogyakarta, Minggu 28 Mei 2006 pak Leres dari JTV menelpon, agar Sutrimo berbicara seputar bencana gempa bumi di JTV hari Senin 29 Mei 2006 dan sepulang dari JTV (Surabaya) menuju ke Malang terjadi semburan lumpur gas (Hidrogen Sulfanida) di Sidoarjo. Mengenai hal ini, apakah terkait karena kebetulan Sutrimo yang menemukan metode pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” atau hanya karena faktor kebetulan, Wallahualam.
IV. BAGAIMANA LANGKAH PEMERINTAH SEHARUSNYA
Dalam Serat Aji Pamasa dikisahkan, ketika Gunung Wilis akan meletus (ribuan tahun silam). Dalam Serat tersebut juga tertulis, kalau kejadian bencana tersebut bersamaan dengan terpisahnya pulau Madura dengan pulau Jawa. Prabu Kusumawicitra memindahkan kerajaannya yaitu kerajaan Mamenang (bukan Kediri) ke daerah Pengging. Di daerah yang dirasa aman ini, Prabu Kusumawicitra mendirikan kerajaan baru diberi nama kerajaan Witaradya. Kalau saja langkah yang ditempuh Prabu Kusumawicitra ini juga dilakukan oleh pemerintah, pastilah korban jiwa pada bencana tsunami dan gempa bumi di Yogyakarta bisa diminimalisir.
Dalam Serat Aji Pamasa pupuh LIV (Durma), pada 14 tertulis:
“Gugur angganing arga gora gurnita, guntur anggeteri, oter tanpantara, Sang Arya Wirabaya, mangu ngungun ing tyas titis, nanging sinamar, tan kawistara wiwrin”.
Arti bebas:
Gunung meletus suaranya keras sangat menakutkan, bumi bergetar (gempa bumi) tiada waktu sela (henti), sang Arya Wirabaya memberi arahan yang mencengangkan hati tapi sangat efektif, walau suasana mencekam bisa tersamar tanpa kelihatan.
Kalau dicermati dari berbagai tulisan dalam Serat Ajipamasa tersebut nampaknya bisa disimpulkan, kalau bencana tersebut sangat dahsyat sampai pulau Madura terpisah dari pulau Jawa yang dahulunya gandeng.
Disini nampaknya Pemerintah harus belajar dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Kusumawicitra yang tertulis di Serat Ajipamasa tersebut, yaitu dengan membentuk Satgas “Wirabaya” di seluruh kecamatan di Indonesia, terutama di titik-titik rawan bencana. Wira berarti pemberani, patriot dan Baya berarti bahaya atau bencana. Wirabaya berarti ksatria yang pemberani dan berjiwa patriot ketika menghadapi bahaya atau musibah apapun. Dalam menghadapi berbagai bahaya atau bencana Satgas Wirabaya harus mampu memberi arahan yang efektif terhadap masyarakat banyak, walau terasa mencengangkan atau aneh. Untuk menghemat biaya Pemerintah bisa merekrut dari berbagai Satgas yang sudah ada, seperti : SAR, BMG, BPPTK, Satkorlak, maupun yang lain.
Serat Ajipamasa pupuh LIV (Durma), pada 52 tertulis:
“Aran Watu Pancakumara kinarya, sarana ngusadani, sabarang lelara, kinaluku ing tirta, kasiramaken sayekti, niscaya waras, dadi bagyanireki.
Arti bebas:
Dengan menguatnya (mengkristalnya) Pancakumara bisa sebagai sarana untuk menyelesaikan berbagai masalah, dengan cara me-luhur-kan ke keheningan sejati, pastilah akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan kita bersama.
Dalam Budaya Jawa mengenal yang disebut “sedulur papat lima pancer” atau “Caturkumara Pancakumara” , dan yang dimaksud “lima pancer” adalah Pancakumara atau dengan istilah lain adalah “Daya Hidup”.
Satgas Wirabaya yang dibentuk pemerintah selain dilatih dengan berbagai keahlian fisik dan tehnologi harus diberi pelatihan mengenai kecerdasan “Daya Hidup” atau kecerdasan Spiritual (SQ), dengan cara me-luhur-kan “Daya Hidup” ke keheningan sejati. Karena dengan cara inilah akan terselesaikan berbagai masalah yang menimpa atau yang akan menimpa negeri ini. Serta dengan cara ini yang akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan kita bersama. Barangkali terbersit praduga, apakah ini bukan klenik atau mistik, dan apakah kaum agamis bisa menerima hal ini…?
Albert Eisten berkata, “Ketika rasio manusia tidak mampu menjangkau dia akan mengatakan irasional, tapi ketika rasio manusia mampu menjangkau dia akan mengatakan rasional”. Pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” atau kecerdasan Spiritual (SQ) sangatlah rasional dan bisa di terima oleh kaum akademis maupun kaum agamis yang mau berfikir rasional, tanpa dilandasi suatu kebencian (negatif thinking). Pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” atau kecerdasan Spiritual (SQ) tanpa doa atau mantra tertentu, karena tidak berdasarkan dari salah satu Theologi (agama), sehingga kaum agamis dari berbagai Theologi (agama) yang berfikir jernih dan rasional pasti bisa menerima dan akan malah menambah khasanah keimanan dalam kehidupan beragama mereka masing-masing, karena keimanan kita kalau Tuhan itu ada akan semakin kuat. Pelatihan ini lintas agama dan etnis, karena Spiritual sifatnya universil. Dan perlu digaris bawahi, kalau metode dan pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” (SQ) ini sangat berbeda dengan pengertian SQ yang selama ini dipahami oleh masyarakat umum selama ini. Kami dari Yayasan “Raket Prasaja” dengan rendah hati dan sangat bangga bila berkenan ditunjuk untuk membeberkan metode dan pelatihan kecerdasan “Daya Hidup” ini. Tetapi bila tidak, kamipun cukup senang kalau hasil kajian kami bisa bermanfaat untuk bangsa ini, karena ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kami dengan mendirikan Yayasan “Raket Prasaja”, sedangkan kajian kami tidak hanya ini dan sebagian sudah dimanfaatkan oleh masyarakat . Misalnya ; kajian mengenai “Budidaya Padi Dalam Budaya Jawa” dan “Sejarah Kalender Jawa” yang pernah disiarkan di JTV dan berbagai stasiun radio di Malang.
Ada pengalaman menarik yang dialami Sutrimo, ketika mencoba ikut pelatihan Spiritual (SQ) di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, waktu itu dengan tujuan menambah pengetahuan. Ternyata disana tidak ada pelatihan, tetapi yang dilaksanakan adalah ceramah-ceramah Theologi (agama) dengan mengutip berbagai ayat dan surat dari sebuah kitab suci dari salah satu agama (Theologi). Kegiatan ini sebenarnya sebuah penipuan publik, karena publikasi tidak sesuai realisasi. Kalau waktu itu ada peserta yang kebetulan Theologi (agama)nya berbeda pastilah kecewa, karena seharusnya Spiritual bersifat universal lintas Theologi (agama). Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh Bapak Kolonel (Purn.) H. Toegino Sokarno,SE pelindung Yayasan “Raket Prasaja”.
Dalam Serat Ajipamasa juga tertulis berbagai tanda kalau akan terjadi suatu bencana, antara lain:
- Siti Sulaya: tanah sudah tidak konsisten.
- Endralaya: Rasa Kehidupan terasa mati rasa.
- Bayu ngisis: angin berhembus tidak semestinya mengarah ke sumber bencana karena terjadi proses minus Oksigen (O2).
- Gerah Uyang: walau angin berhembus tapi suhu udara dan kadar air berubah tidak menentu, sehingga terasa tidak nyaman.
- Sitra Marengi: Terjadi perubahan musim (pancaroba) yang tidak semestinya.
- Sato amangsa janmi : hewan memakan kehidupan manusia atau hewan liar dan buas masuk rumah manusia (makan sesuatu yang seharusnya tidak dimakan oleh hewan tersebut).
Demikian seuntai kajian kami dari Yayasan “Raket Prasaja” sebuah lembaga pengkajian, pengembangan dan pelestarian budaya Jawa. Sebenarnya kajian ini masih jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan dana dan SDM yang kami miliki. Sehingga kami sangat mengharapkan sumbangsih dari berbagai pihak entah berupa dana maupun berupa saran dan kritikan agar terciptanya kajian yang mendekati kata sempurna, terutama yang berupa dana karena sebenarnya kami masih belum putus asa untuk terus memperbaiki kajian ini. Semoga hasil kajian ini bermanfaat untuk masyarakat banyak. Amien.
Malang, 20 Juni 2006